Cianjur (TROBOS LIVESTOCK.COM). Kamis (16/7) dilaksanakan panen raya jagung Jabon hasil kemitraan antara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, dengan PT Sumber Cita Rasa Alam (SCA) yang merupakan bagian dari Cimory Group. Menurut Dadang Suryana , Direktur Utama PT SCA kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan sekaligus Program Strategis Nasional, khususnya dalam penyediaan bahan baku pakan ternak sapi perah.
Jagung yang dipanen berasal dari lahan percontohan (demplot) seluas dua hektare yang dikelola oleh sekitar tujuh petani di bawah naungan Gapoktan Desa Sukaresmi. Hasil panen tersebut akan digunakan sebagai bahan baku pakan ternak untuk sapi perah di SCA Unit 1.” Produksi dari lahan seluas dua hektare ini diperkirakan mencapai 30–40 ton, dengan harapan hasil panen dapat melampaui target sehingga memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani dibandingkan jika menanam komoditas lain seperti singkong”, paparnya.
Lanjut Dadang saat ini SCA Unit 1 memiliki populasi sekitar 400 ekor sapi, dengan sekitar 250 ekor merupakan sapi indukan. Kebutuhan konsumsi jagung SCA Unit 1 mencapai sekitar 30–40 kilogram per ekor per hari, sehingga total kebutuhan pakan jagung mencapai sekitar delapan ton per hari. Dengan kebutuhan tersebut, hasil panen 30–40 ton dari dua hektare lahan hanya mampu memenuhi kebutuhan pakan selama sekitar tiga hingga lima hari.
“Melalui kegiatan panen raya ini, diharapkan seluruh Gapoktan di Kecamatan Sukaresmi tertarik mengembangkan budidaya jagung Jabon. PT SCA juga menyatakan siap menampung hasil panen para petani sebagai bentuk komitmen dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan,” ungkap Dadang.
Dalam skema kemitraan, ia menjelaskan PT SCA menawarkan beberapa pilihan kepada petani. Skema pertama adalah pembelian hasil panen secara langsung, di mana seluruh kebutuhan seperti bibit, pupuk, dan biaya budidaya disiapkan oleh Gapoktan, kemudian harga jual hasil panen akan dinegosiasikan bersama. Skema kedua, PT SCA menyediakan bibit dan pupuk sebagai modal awal yang nantinya diperhitungkan setelah masa panen.
Sementara skema yang saat ini dijalankan adalah penyediaan bibit, pupuk, dan lahan oleh PT SCA, sedangkan petani bertugas melakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Setelah panen, seluruh biaya operasional akan dihitung terlebih dahulu, kemudian keuntungan dibagikan kepada petani sesuai kesepakatan.
PT SCA juga memiliki lahan seluas sekitar 13 hektare. Dari total tersebut, sekitar lima hektare akan digunakan untuk pembangunan kandang, sementara sisanya dimanfaatkan untuk penanaman jagung dan hijauan makanan ternak (HMT) sebagai upaya memenuhi kebutuhan pakan secara berkelanjutan.
Selain pengembangan pakan, perusahaan juga berencana membangun rearing center atau pusat pembesaran sapi perah yang ditargetkan menjadi percontohan nasional bagi sektor swasta. “Fasilitas ini akan difokuskan untuk menghasilkan bibit sapi perah berkualitas. Bibit akan diperoleh dari peternakan milik perusahaan maupun dari berbagai sentra peternakan di Indonesia. Apabila pasokan dalam negeri belum mencukupi, perusahaan membuka kemungkinan melakukan impor sapi muda berusia sekitar delapan hingga sembilan bulan untuk dibesarkan di Indonesia dengan sistem pemeliharaan yang baik. Harapannya, akan dihasilkan sapi dara bunting dengan kualitas setara impor namun memiliki harga yang lebih terjangkau bagi peternak,” jabarnya.
Dadang berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan terhadap investasi yang berorientasi pada pengembangan potensi daerah. Dukungan tersebut terutama dalam percepatan proses perizinan, jaminan keamanan wilayah, serta penguatan sumber daya yang tersedia. Menurutnya kemudahan perizinan masih menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi para investor sehingga membutuhkan perhatian dan dukungan yang lebih serius dari pemerintah daerah. Hasanudin Ketua Gapoktan Barokah, Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi menyampaikan bahwa kemitraan budidaya tanaman jagung yang dilakukan oleh anggota Gapoktan Barokah dengan PT SCA menunjukkan hasil yang positif. Saat ini sekitar 7 orang petani mengelola lahan seluas kurang lebih dua hektare, dan kondisi tanaman sudah menjelang masa panen.
Menurutnya, respons masyarakat terhadap budidaya jagung cukup baik. Meskipun hasil panen belum diperoleh, pertumbuhan tanaman yang menjanjikan telah mendorong minat masyarakat untuk ikut menanam jagung.
Ia berharap program kemitraan budidaya jagung terus mendapat dukungan sehingga semakin banyak petani yang beralih menanam jagung. Selain menghasilkan biji, bagian lain dari tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan sehingga memberikan nilai ekonomi tambahan dan berpotensi meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani.ramdan






