Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Program Community African Swine Fever Biosecurity Interventions (CABI) merupakan sebuah inisiatif bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan FAO (Food and Agriculture Organization) dalam rangka memperkuat ketangguhan peternak babi terhadap peyakit ASF (african swine fever), sekaligus melindungi mata pencaharian peternak dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Adapun program CABI di tahun ini secara resmi ditutup pada Rabu (17/12) dengan capaian yang positif melalui lokakarya diseminasi nasional di Hotel Gran Meliá, Jakarta.
Dengan dukungan Kementan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (MAFRA) Republik Korea, program ini mencatat adanya peningkatan kesadaran peternak terhadap penyakit ASF serta penerapan langkah-langkah biosekuriti di kalangan peternak di tiga wilayah percontohan. Wilayah percontohan ini sekaligus menjadi sentra utama produksi babi, yaitu Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Program ini telah memberdayakan peternak untuk mengutamakan tindakan pencegahan dibandingkan upaya kuratif, yang mencerminkan perubahan pola pikir. Melalui pelatihan praktik langsung, penyediaan sarana biosekuriti, serta pendampingan rutin, peternak di wilayah percontohan berhasil meningkatkan kebersihan kandang, mengendalikan akses ke kandang babi, memperkuat pengelolaan limbah dan pakan, serta meningkatkan deteksi dini dan pelaporan kasus ASF.
Lokakarya ini mempertemukan perwakilan pemerintah daerah dari ketiga wilayah tersebut guna berbagi capaian dan praktik baik program CABI, sekaligus menyoroti efektivitas langkah-langkah biosekuriti yang praktis dan berbasis komunitas dalam melindungi sistem peternakan babi skala kecil.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda, yang diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Hendra Wibawa, mendorong perluasan penerapan pendekatan praktis ini untuk memperkuat sistem pencegahan penyakit secara nasional, termasuk penyakit hewan menular lintas batas seperti ASF. “Mengingat tingkat kematian ASF yang sangat tinggi serta dampak ekonominya yang luas, penguatan biosekuriti menjadi sangat penting. Biosekuriti tetap merupakan lini pertahanan paling efektif,” ujar dia.

Menurutnya, capaian positif ini menjadi landasan kuat untuk replikasi, dan ia menyambut baik upaya untuk memperluas program serupa ke lebih banyak wilayah guna melindungi subsektor peternakan dan meningkatkan ketangguhan peternak. Lokakarya ini juga menandai diseminasi Pedoman Biosekuriti CABI yang memberikan panduan praktis dan efektif bagi pemerintah daerah dan peternak babi untuk meningkatkan biosekuriti di tingkat usaha ternak.
Pada kesempatan yang sama, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mendorong adopsi pendekatan ini secara lebih luas di tingkat regional. Program CABI memberikan contoh nyata bagaimana biosekuriti partisipatif dapat diterapkan secara efektif di tingkat komunitas. Adapun program ini telah berjalan di Kamboja, Laos, dan Filipina.
FAO pun mendorong negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik untuk mencontoh keberhasilan dan pengalaman Indonesia ini dengan mengadopsi pendekatan serupa, guna melindungi mata pencaharian peternak babi dari ancaman ASF yang terus berlangsung serta memperkuat ketahanan pangan,” ujar Rajendra.
Seiring berakhirnya program ini, hasil lokakarya menunjukkan bahwa langkah-langkah biosekuriti yang sederhana dan praktis dapat memberikan dampak besar dalam mencegah penyakit di komunitas peternakan babi. Dengan berlandaskan capaian tersebut, investasi berkelanjutan serta penerapan praktik biosekuriti akan menjadi kunci dalam menekan penyebaran ASF, menjaga keberlanjutan jangka panjang usaha peternakan babi, dan melindungi mata pencaharian keluarga pedesaan.bella





