Livestock Free Ads
IMG 7184 scaled

Siska untuk Ketahanan Energi & Pangan

Tangerang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Sejalan dengan program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto yakni mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan energi, siska (sistem integrasi sapi dan kelapa sawit) kiranya menjadi solusi dalam memperkuat produksi daging sapi serta energi. Terlebih, saat ini Indonesia masih defisit populasi sapi pedaging, sehingga pemenuhannya masih harus impor live cattle maupaun daging kerbau beku dari Australia dan India.

Guna mendalami potensi tersebut, Gapensiska (Gabungan Pelaku dan Pemerhati Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) menggelar seminar internasional dengan topik “Palm Oil-Cattle Co-Investment for Sustainable Palm Oil Plantations Supports National Food and Energy Security”. Acara ini digelar bersamaan dengan pameran Nusantara Livestock and Poultry (NLP) Expo 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Minggu (9/11).

Membuka acara ini, Ketua Umum Gapensiska, Joko Iriantono, menerangkan bahwa dunia tengah menghadapi berbagai tantangan, di mana kebutuhan pangan terus mengalami peningkatan, iklim global sudah tidak bisa diprediksi, perang geopolitik cukup berkecamuk dan keterbatasan lahan untuk kebutuhan pangan terus meningkat. “Pola integrasi yang kita tempuh menjadi salah satu tujuan pengembangan pangan dunia,” jelas dia.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia seluas 16 juta Ha, ia melaporkan, merupakan berkebunan terbesar di dunia. Pola integrasi pada sawit akan menghasilkan satu bentuk ketahanan pangan dan energi. Kemudian menghasilkan ketahanan pangan dengan pola siska akan meningkatkan populasi sapi di dalam negeri, pola yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Pola ketahanan pangan dan energi ini sesuai dengan program Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi. Beberapa studi dan kajian di lapangan juga menyatakan bahwasanya program siska sudah mengarah ke tujuan utama, yaitu ketahanan pangan nasional kita. Mudah-mudahan dengan program seperti ini, dengan riset yang dikembangkan oleh perguruan tinggi, bisa meningkatkan potensi siska untuk ketahanan pangan nasional kita, khususnya kecukupan daging sapi di dalam negeri,” tandas Joko secara virtual.

Pemerintah Menyambut Baik

Mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan (Kementerian Pertanian), Direktur Pakan, Tri Melasari, menegaskan bahwa pemerintah sangat menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya optimalisasi integrasi sawit-sapi dalam

mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Menurutnya, populasi sapi pedaging di Indonesia pada 2024 sebanyak 11.749.780 ekor yang menghasilkan daging sebanyak 0,37 juta ton. sementara kebutuhan daging nasional sebanyak 0,77 juta ton, sehingga mengalami defisit 0,4 juta ton.

“Dalam rangka memenuhi defisit daging dalam negeri, diperlukan penambahan indukan sapi pedaging sebanyak 1 juta ekor sampai 2029. ⁠P2SDN merupakan upaya yang dilakukan sebagai percepatan peningkatan produksi susu dan daging untuk memenuhi kebutuhan dalam negari. Strategi untuk pencapaian P2SDN antara lain dengan peningkatan populasi, produktivitas sapi perah dan pedaging serta penyediaan lahan untuk investasi peternakan,” sebut dia.

WhatsApp Image 2025 12 04 at 14.58.56
Foto By TROBOS & Bella

Menurut Mela, pola integrasi sapi-sawit merupakan salah satu upaya dalam strategi pencapaian P2SDN. Data statistik kelapa sawit pada 2023 lalu menunjukkan luas lahan perkebunan sawit seluas 16,83 juta Ha dengan luas yang akan terkonfirmasi seluas 905.273 Ha. Apabila dihitung, daya tampung lahan sawit sebagai penggembalaan adalah 4 Ha untuk 1 ekor ternak sapi.

Adapun kondisi tanaman sawit untuk lahan penggembaalaan, lanjutnya, berada di antara rentang umur tanaman 5-15 tahun. “Luas TM Perkebunan sawit 12,96 juta Ha, apabila diambil 50 % luas perkebunan sawit TM yaitu sebesar 6,48 juta Ha yang bisa menampung 1,6 juta ekor ternak sapi pedaging yang sangat berpotensi di dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional. Melalui integrasi sawit-sapi, sektor perkebunan dapat berperan aktif dalam menyediakan sumber pakan, lahan, dan sistem usaha yang sinergis dengan subsektor peternakan,” imbuh Mela.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Peneliti Wageningen University Belanda, Maja Singerland dengan topik “Best Practice and Innovation in Palm Oil Cattle Integration (Siska) & Intercopping Systems for Sustainable Livelihoods”. Materi diteruskan oleh Ketua Centras (Center for Tropical Animal Studies) IPB University, Prof Nahrowi Ramli, yang menyampaikan penjelasan berjudul “Circular Economy Approach: Palm Oil Bioproducts as High-Value Animal Feed and Its Economic Viability”.bella

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Upaya Pengembangan Substitusi SBM dengan Bahan Pakan Lokal  
BRIN
BRIN Perkuat Diplomasi Peternakan di Tiongkok
WhatsApp-Image-2026-01-15-at-12.58.44
Pemerintah Mengalokasikan 4,8 T di Sektor Peternakan Sapi
4186d886-89df-45e7-a483-0e6b667a9ed9
Sikap Permindo di Tengah Ketidakpastian Kebijakan Pakan
b13965ca-8b38-4dfe-a162-681651d161e6
Komitmen Permindo Memperjuangkan Aspirasi Peternak Mandiri
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!