Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Perbankan dalam subsektor peternakan berfungsi sebagai penyedia modal kerja dan investasi melalui skema kredit yang disesuaikan dengan siklus hidup dan risiko biologis ternak. Salah satu bank plat merah yang aktif berkontribusi dalam mendukung subsektor peternakan ialah Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRI sendiri mendukung subsektor peternakan melalui pembiayaan modal, program pemberdayaan klister usaha, dan bantuan sarana produksi.
Pada kesempatan seminar International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation: Collaborative Solutions for Global Nutrition Resilience and Economic Growth yang digelar oleh BRIN (Badan Riset and Inovasi Nasional) di Jakarta, pada sesi Investment and Planning for Sustainable Livestock Development, Direktur Bisnis Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa sebagai bank yang mayoritas nasabahnya berasal dari segmen masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah, daya beli sangat bergantung pada stabilitas harga pangan, termasuk produk peternakan seperti daging, telur, dan susu. Ketika harga menjadi bergejolak, dampaknya langsung dirasakan, tidak hanya oleh masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga oleh para produsen skala kecil dan pelaku usaha di sepanjang rantai nilai.
“Oleh karena itu, dari perspektif kami, penguatan subsektor peternakan bukan hanya tentang meningkatkan produksi, tetapi juga tentang menjaga stabilitas ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu kekuatan utama BRI adalah jangkauan jaringan yang sangat luas, dengan lebih dari 7.300 unit kerja, lebih dari 1,2 juta AgenBRILink, serta 1,467 miliar titik layanan digital. Jangkauan ini memungkinkan BRI hadir hingga ke pelosok desa, termasuk menjangkau petani dan peternak skala kecil di sektor agrifood dan peternakan,” sebut dia.
Menurutnya, jangkauan ini sangat penting karena salah satu tantangan utama bukan hanya akses terhadap pembiayaan, tetapi juga akses terhadap layanan keuangan, pasar, dan ekosistem pendukung. Pada saat yang sama, BRI juga terus memperkuat pembiayaan bagi usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).
Ia pun melaporkan, bahwa saat ini, sekitar 77,5 % portofolio kredit BRI disalurkan kepada segmen UMKM dengan total pembiayaan mencapai Rp 1.521 triliun. “Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pemerintah, pada 2025 BRI juga telah menyalurkan lebih dari Rp 178,1 triliun kepada lebih dari 3,8 juta debitur. Lebih dari separuh penerima KUR tersebut berasal dari sektor yang berkaitan dengan pangan, termasuk subsektor peternakan,” ungkap Achmad.
Namun baginya, berdasarkan pengalaman BRI, pembiayaan saja tentu tidak cukup. Untuk benar-benar mendorong transformasi subsektor peternakan, terdapat setidaknya tiga aspek utama yang perlu diperkuat. Pertama adalah pembiayaan berbasis ekosistem. Pembiayaan tidak seharusnya hanya diberikan pada tingkat individu, tetapi harus terhubung di seluruh rantai nilai, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Dengan demikian, pelaku usaha skala kecil tidak hanya memperoleh akses terhadap modal, tetapi juga memiliki kepastian usaha melalui keterhubungan dengan offtaker dan permintaan pasar.
“Kedua adalah integrasi rantai nilai. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha skala kecil adalah terbatasnya akses terhadap pasar, teknologi, dan jaringan distribusi. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRI mendorong pendekatan berbasis klaster usaha. Saat ini, kami telah membangun lebih dari 42.000 klaster usaha untuk meningkatkan skala usaha, efisiensi, konektivitas, serta memperkuat integrasi dari hulu hingga hilir. Melalui pendekatan ini, kami berharap para pelaku usaha skala kecil dapat menjadi lebih produktif dan lebih kompetitif,” papar dia.
Ketiga, Achmad mengimbuhkan, adalah pemberdayaan dan peningkatan kapasitas. Inilah kontribusi yang secara khusus dapat dilakukan BRI hingga ke desa-desa di seluruh Indonesia. “Kami meyakini bahwa pembiayaan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan, melalui berbagai inisiatif seperti LinkUMKM. Melalui LinkUMKM, sebuah super app yang kini telah digunakan oleh lebih dari 14,9 juta pengguna, serta program Desa BRILiaN yang telah menjangkau lebih dari 5.200 desa, kami mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam meningkatkan literasi keuangan, kapabilitas bisnis, serta adopsi teknologi,” ungkapnya.
Ke depan, BRI juga memandang bahwa pengembangan subsektor peternakan harus selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, termasuk efisiensi pemanfaatan sumber daya dan penerapan praktik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. “Pada akhirnya, transformasi subsektor peternakan hanya akan berhasil apabila kita mampu membangun ekosistem yang inklusif, terhubung, dan berkelanjutan, di mana para pelaku usaha skala kecil tidak tertinggal, melainkan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi,” tandas Achmad mengakhiri.bella






