Livestock Free Ads
Trobos banner 2026.May

Bioindustri Itik Dongkrak Lahan Rawa Lebak

Bandung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemanfaatan lahan rawa air tawar atau rawa lebak dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pertanian, meskipun hingga kini masih menghadapi berbagai keterbatasan. Lahan yang terbentuk dari cekungan daratan tempat berkumpulnya air sungai dan hujan ini umumnya tergenang saat musim hujan dan mulai surut pada musim kemarau, sehingga membutuhkan pendekatan teknologi yang tepat agar produktivitasnya meningkat.

Kondisi tersebut mendorong Aris Pramudia, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama tim lintas riset untuk mengkaji pemanfaatan lahan rawa lebak secara lebih optimal. Penelitian dilakukan dengan tujuan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus pendapatan petani melalui pendekatan inovatif yang adaptif terhadap kondisi lingkungan.

Aris menjelaskan bahwa di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, lahan rawa lebak telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Namun demikian, ia menegaskan bahwa produktivitas dan pendapatan petani masih tergolong rendah akibat terbatasnya adopsi teknologi, fluktuasi harga, rendahnya kepemilikan lahan, serta tingginya kerentanan terhadap perubahan musim.

Ia mengungkapkan, tantangan utama yang dihadapi petani di kawasan tersebut adalah banjir yang tidak menentu saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Oleh karena itu, menurutnya diperlukan solusi yang mampu beradaptasi dengan variabilitas iklim sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.

Sebagai solusi, Aris dan tim mengembangkan model bioindustri tanaman-itik yang mengusung konsep ekonomi sirkular. Sistem ini mengintegrasikan komoditas tanaman, itik, dan ternak lain dengan memanfaatkan limbah biologis secara silang antar komoditas, sehingga menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Melalui bioindustri tanaman-itik di lahan rawa lebak, kami melihat perlunya mengintegrasikan adaptasi terhadap variabilitas curah hujan dan mempromosikan ekonomi sirkular melalui penerapan beberapa teknologi. Implementasi ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani,” ujar Aris.

Penelitian tersebut melibatkan 97 rumah tangga dari tiga kelompok tani dan satu kelompok wanita tani yang mengelola lahan seluas 75 hektar (ha). Dalam implementasinya, sekitar seribu ekor itik turut dilibatkan sebagai bagian dari sistem bioindustri terintegrasi.

Hasil penelitian menunjukkan adanya penyesuaian jadwal tanam sebagai respons terhadap perubahan pola curah hujan. Penyesuaian ini berdampak pada bertambah panjangnya musim tanam, sekaligus meningkatkan produksi telur itik sebesar 14,69 %, produksi padi sebesar 350 kg per ha atau 5,85 %, serta produksi terong sebesar 11.945 kg per ha atau 76,57 %.

Selain peningkatan produksi, durasi pemeliharaan itik juga tercatat berkisar antara 12 hingga 21 bulan. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani mengalami kenaikan signifikan, yakni sebesar 26,1 % dari usaha ternak itik, 9,3 % dari padi, dan 221,5 % dari komoditas terong.

Aris menuturkan bahwa model bioindustri yang dikembangkan terdiri atas tiga komponen utama, yaitu peternakan itik sebagai sektor unggas, padi sebagai komoditas pangan, serta terong sebagai komoditas hortikultura. Ketiga komponen tersebut saling terhubung dalam satu sistem produksi terpadu.

“Itik menghasilkan telur, daging, dan limbah yang digunakan sebagai pupuk untuk padi dan hortikultura. Padi menghasilkan beras dan benih, juga limbah berupa dedak dan jerami,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dedak padi dimanfaatkan sebagai pakan itik, sementara jerami digunakan sebagai mulsa untuk tanaman hortikultura. “Tanaman terong sendiri menghasilkan buah segar dan olahan, sedangkan kondisi curah hujan menentukan jadwal tanam dan pola penggembalaan itik,” imbuh Aris.

Untuk memastikan ketepatan pengelolaan sistem, tim peneliti turut memadukan pengetahuan lokal petani dengan analisis ilmiah. Data curah hujan dari BMKG digunakan untuk menentukan awal musim kemarau, yang kemudian diintegrasikan dengan pengalaman petani dalam mengatur pola tanam.

Lebih lanjut, Aris mengungkapkan bahwa selama kondisi La Nina, musim kemarau cenderung dimulai dua dekade lebih awal dibandingkan kondisi normal maupun El Nino. Kondisi ini memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi jika dikelola dengan strategi yang tepat.

“Produksi telur itik meningkat menjadi 63,1 % dari sebelumnya 55,0 %, biaya produksi padi turun 28 % dengan penggunaan PGPR, produksi padi naik 5,85 %, dan hasil panen terong meningkat drastis sebesar 76,57 %,” paparnya.

Ia juga menekankan bahwa penerapan model ini mampu memperpanjang masa produktif itik dari 12 menjadi 21 bulan berkat peningkatan kesehatan melalui pemberian jamu herbal. Selain itu, pemanfaatan limbah seperti dedak, jerami, dan kotoran secara maksimal mampu mengurangi ketergantungan terhadap input eksternal serta meminimalkan limbah lingkungan.

Melalui temuan tersebut, Aris berharap model bioindustri tanaman-itik berbasis ekonomi sirkular dapat terus dikembangkan sebagai solusi pertanian berkelanjutan di lahan rawa lebak. Pendekatan ini dinilai tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi petani di tengah perubahan iklim.shara

 

Tag:

Bagikan:

Trending

0377451d-583b-4e7b-b67c-fc3a3fcf3aa6
Bioindustri Itik Dongkrak Lahan Rawa Lebak
By Shara
YAPPI Apresiasi Pelaku Sosial Pangan Lewat Indolivestock Award
By nuruddin
JAPFA dan UGM Hadirkan Fasilitas Layer Free-Range Berbasis Riset dan Keswan
Dirjen PKH
Kontes Sapi Wonosobo Dongkrak Semangat Peternak
By TROBOS
Teknologi mtDNA Verifikasi Keaslian Pangan  
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!