Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan ketersediaan pasokan dan harga sapi hidup di tingkat produsen tetap terkendali menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga Lebaran tahun depan. Kepastian tersebut disampaikan Sudaryono saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-3 Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) di Bogor, Sabtu (20/12).
Dalam kesempatan itu, Sudaryono menegaskan bahwa harga sapi di kandang peternak saat ini masih berada di bawah harga acuan pembelian yang ditetapkan pemerintah. Ia menyebut, harga sapi hidup di tingkat produsen berada di kisaran Rp 52.000 hingga Rp 53.000 per kilogram (kg) bobot badan. “Stok saat ini cukup dan harga di tingkat produsen Rp 52.000 – Rp 53.000 per kg bobot badan, lebih rendah dari harga acuan,” ujar Sudaryono.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian sapi hidup melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Dalam regulasi tersebut, harga acuan pembelian sapi hidup di tingkat produsen ditetapkan pada kisaran Rp 56.000 – Rp 58.000 per kg bobot badan. Menurutnya, kondisi harga yang masih berada di bawah batas acuan ini menunjukkan pasokan sapi nasional dalam keadaan aman.
Sudaryono kemudian mengaitkan stabilitas harga sapi dengan penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah. Ia menilai program MBG tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi, tetapi juga menjadi penopang pasar bagi produk peternakan. “MBG adalah jaminan. Dulu orang pelihara sapi perah, ada yang susunya belum terserap. Sekarang MBG semua rebutan, tidak ada peternak sapi perah yang susunya tidak akan diserap,” tegasnya.

Selain itu, Wamentan meminta APPSI untuk berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah di lapangan. Ia berharap asosiasi dapat menjadi penghubung yang efektif antara peternak dan pemerintah dalam menyampaikan kondisi riil sektor peternakan. “Kami ingin APPSI menjadi mata, telinga, dan corong dari pemerintah. Yang baik katakan baik, yang tidak baik laporkan agar bisa kita selesaikan,” ujarnya.
Sudaryono menekankan pentingnya laporan cepat dari asosiasi apabila terjadi gangguan produksi, wabah penyakit hewan, maupun persoalan tata niaga. Dengan komunikasi yang intens dan responsif, pemerintah menargetkan setiap permasalahan yang dihadapi peternak dapat ditangani secara lebih sigap dan terukur. Menurutnya, kolaborasi yang kuat akan menjaga stabilitas pasokan sekaligus melindungi kesejahteraan peternak.
Di sisi lain, Ketua Umum APPSI yang juga Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, membenarkan bahwa kedekatan asosiasi dengan Kementerian Pertanian selama ini memberikan banyak manfaat bagi peternak. Ia menilai sinergi tersebut memudahkan APPSI dalam mengawal kepentingan peternak di daerah, sekaligus membuka akses terhadap berbagai program pendukung pemerintah.
Muzani mencontohkan, kegiatan APPSI di berbagai wilayah kerap menarik perhatian pemerintah dan mendorong hadirnya dukungan nyata bagi peternak. Ia menyebut kontes sapi dan program pembinaan yang digelar APPSI tidak hanya meningkatkan transaksi, tetapi juga mengangkat derajat dan kepercayaan diri peternak. Selain itu, Muzani menyoroti potensi besar pengembangan sapi perah dan unggas dalam kerangka MBG, yang dinilainya mampu memberikan kepastian offtaker serta peluang usaha yang lebih menjanjikan bagi peternak ke depan.shara




