Keberlanjutan industri SBW hanya bisa dicapai bila keamanan pangan dan kealamian produk dijadikan prioritas utama
Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, salah satunya dari sarang burung walet (SBW). Produk bernilai tinggi ini bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi juga simbol keunggulan Indonesia di pasar dunia. Namun, di balik kilau ekonominya, industri sarang burung walet menghadapi tantangan besar yang harus diantisipasi secara serius.
Menurut Dosen IPB University dari Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan Epidemiologi, Hadri Latif, potensi besar SBW tidak hanya terletak pada volume produksinya, tetapi juga pada kemampuan Indonesia menjaga kualitas dan keamanan produk di seluruh rantai hilir. Mulai dari rumah walet, proses pencucian, hingga pengolahan dan pemasaran. “Indonesia adalah penghasil sarang burung walet terbesar sekaligus terbaik di dunia, tapi reputasi ini bisa runtuh bila isu keamanan pangan tidak kita tangani dengan benar,” tegasnya.
Hadri menyoroti bahwa isu terbesar dalam perdagangan SBW saat ini bukan lagi pada aspek biologis, melainkan pada potensi bahaya kimiawi. Kontaminasi bahan kimia, baik yang terjadi secara alami maupun yang sengaja ditambahkan, telah menjadi perhatian utama negara-negara pengimpor, terutama Tiongkok sebagai pasar terbesar dunia.
“Bahaya kimiawi alami biasanya berasal dari lingkungan sekitar rumah walet. Air, tanah, udara, dan serangga yang menjadi pakan walet juga bisa menjadi sumber kontaminan. Selain itu, kotoran walet juga dapat memicu peningkatan kadar nitrit dalam sarang. Sementara itu, cemaran kimiawi yang disengaja seringkali timbul dari penggunaan bahan tambahan yang tidak aman, baik untuk memperindah maupun meningkatkan nilai jual produk,” jelas dia.
Masalahnya bukan hanya soal keamanan, lanjutnya, melainkan juga kealamian. Produk walet sendiri dikenal karena sifat alaminya. Ketika bahan tambahan kimia digunakan, bahkan dalam jumlah kecil, produk tersebut dianggap tidak lagi ‘natural’. Negara pengimpor menolak SBW yang mengandung bahan tidak alami, sekalipun bahan itu aman secara toksikologis.
Ia mengatakan, bahwa salah satu isu yang sering muncul adalah kadar nitrit yang tinggi. Nitrit terbentuk secara alami dari reaksi antara amonia dan bakteri dalam kotoran walet. Namun, dalam beberapa kasus, pelaku industri berupaya menurunkan kadar nitrit dengan bahan kimia tambahan, yang justru menimbulkan kontaminan baru. “Kita sering bertindak seperti pemadam kebakaran, menangani gejalanya, bukan sumbernya,” sesal Hadri.
Selain nitrit, Hadri menyambung, isu logam berat juga mencuat. Hasil penelitian Hadri dan tim menunjukkan adanya kandungan logam seperti timbal dan aluminium dalam SBW. Meski sebagian besar kontaminan ini bisa hilang lewat proses pencucian standar, tetap diperlukan kewaspadaan. Aluminium sebenarnya bukan logam berat, tapi karena kadarnya tinggi, maka menjadi perhatian besar di pasar ekspor.
“Pencucian yang tepat dapat menurunkan kadar logam berat hingga setengah dari batas standar yang ditetapkan Tiongkok. Akan tetapi, jika bahan kimia sengaja ditambahkan, maka pencucian tidak lagi cukup untuk menormalkan produk,” ia mengingatkan.
Pentingnya Diplomasi Teknis
Hadri melaporkan, bahwa Tiongkok menerapkan standar paling ketat untuk SBW, terutama dalam batas kadar nitrit dan logam berat. Sebagai negara konsumen terbesar, Tiongkok memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan perdagangan dunia untuk produk ini. Standar mereka kadang lebih ketat dibanding negara lain, tapi itu konsekuensi karena mereka pembeli terbesar.
Ia juga menggaris bawahi adanya kesalahpahaman antara negara pengimpor dan eksportir. Beberapa negara, seperti Kanada dan Australia, sempat menghentikan impor SBW dari Indonesia akibat perbedaan pemahaman tentang jenis produk, antara yang raw clean dan ready to eat. “Masalah seperti ini seharusnya bisa dihindari dengan komunikasi dan negosiasi yang lebih jelas,” tuturnya.
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026




