Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ekosistem dan iklim yang sangat beragam, sehingga melahirkan banyak rumpun ternak lokal yang unik. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, populasi ternak lokal menghadapi tekanan serius akibat penggunaan ras unggul eksotis untuk mengejar produktivitas daging dan susu. Kondisi ini menyebabkan penurunan jumlah ternak lokal berlangsung cepat dan dinilai memerlukan penanganan segera.
Di kawasan Timur Indonesia, keberadaan kambing Marica, Lakor, Kisar, dan sejumlah populasi lokal lain mencerminkan kekayaan genetik yang terbentuk melalui seleksi alami dan praktik budi daya turun-temurun. Meski begitu, banyak dari rumpun tersebut belum sepenuhnya teridentifikasi maupun terkarakterisasi baik secara fenotipik maupun genotipik. Situasi ini membuat upaya pelestarian menjadi semakin mendesak.
Menanggapi hal itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan pentingnya pelestarian sumber daya genetik ternak lokal melalui riset mendalam berbasis pendekatan molekuler dan kearifan lokal. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sharing session bertema “Keanekaragaman Sumber Daya Genetik Ternak Kambing Lokal di Kawasan Wilayah Timur Indonesia” yang digelar Pusat Riset Peternakan BRIN pada Kamis (13/11). Menurutnya, nilai ekonomi, sosial, dan ilmiah dari ternak lokal sangat tinggi dan tidak boleh diabaikan.

Puji menuturkan bahwa kambing lokal merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Ia menyebut kambing lokal sebagai sumber protein hewani yang mudah dijangkau sekaligus aset ekonomi yang bernilai. “Kambing lokal merupakan bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat. Ia menjadi sumber pangan sekaligus tabungan hidup bagi banyak keluarga,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan risiko erosi genetik yang dapat muncul jika persilangan dengan ras unggul tidak dibarengi upaya konservasi plasma nutfah. Menurutnya, hilangnya keragaman genetik dapat mengurangi kemampuan ternak beradaptasi terhadap perubahan lingkungan maupun penyakit. “Jika keragaman genetik hilang, kita juga kehilangan kemampuan ternak untuk bertahan di kondisi ekstrem yang mungkin terjadi di masa depan,” jelasnya.
Puji menilai riset di Wilayah Timur Indonesia sebagai langkah strategis untuk mengungkap karakteristik, potensi, dan garis evolusi kambing lokal yang selama ini belum banyak dikaji. Ia menjelaskan bahwa teknologi marka molekuler dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang hubungan genetik, asal-usul domestikasi, dan keragaman populasi. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi teknologi untuk pemuliaan dan konservasi tanpa menghilangkan identitas asli rumpun lokal.
Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menambahkan bahwa plasma nutfah kambing lokal di Timur Indonesia memiliki potensi genetis luar biasa, namun terancam oleh persilangan tidak terkendali dan kurangnya konservasi sistematis. Ia menegaskan bahwa riset dan inovasi menjadi kunci untuk memahami, melindungi, dan mengembangkan kekayaan genetik tersebut. “Tanpa konservasi yang sistematis, potensi genetik ini bisa hilang. Di sinilah riset berperan penting untuk melindunginya bagi ketahanan pangan masa depan,” kata Santoso.
Dalam sesi yang sama, Procula Rudlof Matitaputty, Peneliti Ahli Madya BRIN, memaparkan hasil riset mengenai kambing Lakor dari Pulau Lakor, Maluku Barat Daya. Ia menyebut kambing Lakor memiliki sejumlah keunggulan seperti produktivitas tinggi, kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kering, variasi pola warna, serta pertumbuhan yang cepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa kambing Lakor termasuk kelompok monofiletik dengan satu garis maternal yang sama sehingga menunjukkan kemurnian genetik yang kuat.
Namun demikian, Rudlof juga mencatat beberapa tantangan seperti minimnya tenaga kesehatan hewan, rendahnya kapasitas peternak dalam manajemen reproduksi, pemasaran hewan produktif yang belum terarah, dan terbatasnya ketersediaan obat serta layanan kesehatan ternak. Ia menekankan pentingnya teknologi molekuler seperti genome sequencing untuk mengungkap keragaman genetik dengan akurasi tinggi. “Kambing Lakor memiliki prospek pengembangan yang sangat baik. Keragaman genetiknya menjadi modal penting untuk program pemuliaan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kearifan lokal masyarakat turut menjaga keberlanjutan populasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Guru Besar Pemuliaan Ternak Universitas Hasanuddin, Prof. M. Ihsan Andi Dagong, turut memaparkan hasil kajian genetik kambing lokal di Timur Indonesia menggunakan marka SRY dan mtDNA. Ia menyebut kambing telah didomestikasi sekitar 10.000 tahun lalu dan kini tersebar hampir di seluruh dunia. Berdasarkan analisis maternal, haplogroup B mendominasi populasi kambing lokal dengan frekuensi 0,950, sedangkan haplogroup A hanya sekitar 0,050. Untuk marka paternal, ditemukan tiga haplotype yaitu Y1AA, Y2A, dan Y2B, dengan Y1AA sebagai yang paling dominan.
Prof. Ihsan menilai informasi tersebut penting dalam menelusuri sejarah domestikasi serta hubungan antar-ras. Ia menjelaskan bahwa data genetik menjadi dasar dalam merancang strategi pemuliaan yang lebih presisi dan sesuai karakteristik populasi lokal. “Informasi ini penting untuk menelusuri hubungan antarrumpun dan merancang strategi pemuliaan yang tepat,” ujarnya.
BRIN berharap kegiatan ini dapat memperkuat kolaborasi lintas lembaga, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam menjaga kekayaan sumber daya genetik ternak nasional. Riset berkelanjutan dinilai menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan. Melalui sinergi tersebut, pelestarian ternak lokal diharapkan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.shara




