Trobos banner 2026.May

Meningkatkan Daya Saing dengan Layer Cage-Free

Dengan skala terbatas, peternak kecil sulit bersaing dalam efisiensi pakan melawan perusahaan besar. Kendati demikian, melalui peningkatan kualitas dan menjual produk bernilai tinggi, margin keuntungan bisa signifikan

Industri perunggasan Indonesia tengah memasuki babak baru yang lebih berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan hewan. Seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap asal-usul dan kualitas produk pangan, muncul tuntutan agar produksi telur tidak hanya efisien, tetapi juga memperhatikan aspek etika. Di tengah perubahan ini, konsep cage-free (bebas sangkar) menjadi sorotan sebagai wujud transformasi menuju praktik peternakan yang lebih ramah terhadap hewan dan lingkungan.

Direktur PT Agromix Lestari Grup, Arya Khoirul Hammam, menilai bahwa konsep cage-free menjadi inovasi penting yang mencerminkan kepedulian terhadap hewan dan manusia. Menurutnya, telur kini bukan sekadar komoditas pangan, melainkan hasil dari proses produksi yang bertanggung jawab dan berpihak pada keberlanjutan.

Berangkat dari pandangan tersebut, Arya yang telah berkecimpung lebih dari 7 tahun di industri ayam petelur (layer) menjelaskan, bahwa penerapan sistem bebas sangkar dalam skala komersial baru berjalan sekitar satu setengah tahun terakhir. “Persiapan panjang dibutuhkan karena inovasi ini menuntut riset, uji coba, serta pemahaman menyeluruh,” sebut dia.

Menurutnya, kematangan industri perunggasan membuka ruang untuk melakukan lompatan inovasi. Jika pada komoditas lain peternak masih berkutat dengan masalah pakan, harga, dan distribusi, maka pada ayam petelur inovasi sudah bisa diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Salah satunya melalui konsep cage-free yang kini menjadi tren global.

“Tren kesejahteraan hewan tidak hanya tumbuh di negara-negara barat, tetapi juga mulai diterima di Indonesia. Konsumen semakin sadar terhadap asal-usul pangan yang mereka konsumsi, termasuk telur, susu, maupun daging. Kesadaran ini memunculkan peluang sekaligus tantangan bagi peternak lokal untuk beradaptasi dengan standar baru,” terangnya.

Sebagai bukti berkembangnya tren ini, Arya menerangkan, bahwa pada 2024 telah dibentuk Indonesia Cage-Free Association (ICFA). Organisasi ini bertujuan mewadahi animo peternak dan konsumen agar bergerak searah, sambil menyiapkan edukasi, pendampingan, serta penguatan pasar. Dengan begitu, perkembangan industri cage-free dapat terjaga dan terus tumbuh.

Memahami Konsep Cage-Free

Arya menerangkan, prinsip utama cage-free adalah menghargai perilaku alami ayam. Artinya, ayam tidak dikurung dalam kandang baterai, melainkan dibebaskan untuk bertengger, bertelur, berjalan di atas litter (alas), bahkan memiliki akses untuk berjemur. Inilah bentuk nyata dari penghormatan terhadap hak hewan.

“Dalam praktiknya, terdapat tiga tingkatan cage-free. Pertama adalah status cage-free, di mana ayam dibebaskan dalam ruangan tanpa akses ke luar. Kedua adalah free-range, yaitu ayam memiliki akses ke area luar, sehingga bisa berjemur dan menginjak tanah. Tingkatan tertinggi adalah pasture-raised, di mana ayam benar-benar diumbar di lahan terbuka dengan rasio luas lahan yang besar,” terang dia.

Ia mengaku, bahwa PT Agromix Lestari sendiri menerapkan sistem free-range. Arya menyebut, sistem ini menuntut perhatian khusus, termasuk pada aspek desain kandang, penyediaan pakan, hingga rencana kontingensi saat listrik padam atau air terputus. Semua itu dilakukan agar ayam tetap mendapatkan hak-haknya tanpa mengorbankan kelangsungan produksi.

Menurut Arya, pola cage free harus dibedakan dari sekadar mengumbar ayam kampung secara liar. “Pada sistem cage-free, ada parameter teknis dan sertifikasi kesejahteraan hewan yang harus dipenuhi, seperti pemberian vaksinasi, kontrol pakan, hingga langkah-langkah preventif kesehatan. Hal ini tidak terjadi pada ayam kampung yang diumbar begitu saja,” jelas dia.

Untuk memperkuat kredibilitas, peternakan yang dikelolanya telah mendapatkan sertifikasi dari Humane Farm Animal Care (HFAC). Sertifikasi ini menilai aspek teknis kesejahteraan hewan, mulai dari akses bertengger, kebebasan bergerak, hingga kesempatan ayam untuk mandi debu. Sertifikasi internasional tersebut menambah nilai jual telur di pasar.

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp-Image-2026-08-14-at-14.07.44
Peternak Usul Distribusi Jagung SPHP Diperpanjang
Dok by kementan
Mentan Akan Cabut Izin Importir Pakan Nakal
Pemeriksaan dan pemantauan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini
Membangun Masa Depan dari Gizi Anak
WhatsApp-Image-2026-08-13-at-11.18.59
Langkah Konkret Pemerintah Sambut Aspirasi Peternak
WhatsApp-Image-2026-08-12-at-09.18.02
Filipina Kunjungi Fasilitas Kesehatan Hewan Indonesia
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!