Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Rencana pembangunan pabrik pakan baru dalam program hilirisasi ayam terintegrasi dinilai dapat memperkuat industri perunggasan nasional. Program yang digagas pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ini akan mulai berjalan tahun depan. Ruang lingkupnya mencakup pembangunan pabrik pakan, pembibitan, penetasan telur, cold storage hingga rumah potong ayam (RPHU), dengan fokus utama pengembangan di luar Pulau Jawa.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B. Utomo, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Ia menilai kehadiran pabrik pakan baru akan memberi dampak positif terutama bagi peternak mandiri. “Semakin banyak pilihan bagi peternak, terutama peternak mandiri, akan semakin baik. Kehadiran pabrik-pabrik baru dapat memberikan peluang agar peternak tidak terlalu bergantung pada integrator-integrator besar,” ujarnya saat dihubungi Senin (17/11).
Menurut Desianto, pembangunan pabrik pakan di wilayah Indonesia timur akan memberikan manfaat cepat melalui peningkatan penyerapan jagung lokal saat masa panen. Ia menyebut daerah seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bima, dan Sumba selama ini menjadi sentra jagung namun belum memiliki industri pakan yang memadai. Kehadiran pabrik baru diyakini dapat memicu kompetisi pembelian jagung lokal sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas petani.

“Yang pertama adalah penyerapan jagung saat musim panen. Dengan hadirnya pabrik, akan ada kompetisi penyerapan lokal yang mungkin memicu petani menanam lebih banyak,” jelasnya. Ia menilai langkah ini dapat menciptakan rantai pasok yang lebih efisien serta meningkatkan nilai tambah di daerah sentra bahan baku.
Meski demikian, Desianto menegaskan bahwa keberhasilan program hilirisasi perlu diikuti peningkatan infrastruktur pendukung industri. Ia mencontohkan wilayah Kalimantan bagian atas yang dinilai masih terbatas akses darat, pelabuhan, dan fasilitas bongkar muatnya. “Di Kalimantan bagian atas, misalnya, GPMT saat ini baru memiliki pabrik di Pontianak. Akses darat, pelabuhan, dan fasilitas bongkar muat masih minim,” katanya. Karena itu, GPMT mendorong pemerintah memastikan kesiapan transportasi, kontainer, dermaga, dan pasokan listrik untuk mendukung operasional pabrik secara optimal.
Pandangan serupa disampaikan Kholiq dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR). Ia menilai program ini dapat menjadi momentum memperbaiki struktur industri sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi. Menurutnya, hilirisasi yang dikelola dengan tepat dapat menekan biaya produksi peternak hingga Rp 600-1.000 per kilogram dan mengurangi praktik bundling pakan-DOC oleh integrator besar yang selama ini merugikan peternak rakyat.
Kholiq juga menyampaikan bahwa kehadiran fasilitas baru dapat memperkecil peran broker dan membuka jalur pemasaran langsung bagi peternak. “Selama ada koperasi dan akses produksi yang memadai, peternak bisa mandiri 100 %. Harga pun lebih stabil karena ada kompetitor baru,” tuturnya.
GPMT dan PINSAR menilai program ini dapat menjadi lompatan besar menuju kemandirian industri perunggasan. Kehadiran pabrik pakan baru, fasilitas produksi terpadu, serta rantai pasok yang lebih efisien dipandang dapat membuka ruang lebih besar bagi peternak UMKM dan mendorong kompetisi usaha yang lebih sehat. “Selama pemerintah benar-benar membantu dan tidak ikut di sektor budidaya, kami yakin peternak rakyat bisa jauh lebih kuat,” pungkas Kholiq.shara




