Tidak perlu konsep rumit untuk melawan stunting, cukup dua ekor ayam di rumah dan satu butir telur setiap hari di meja makan
Upaya memperkuat ketahanan pangan dan menurunkan angka stunting terus digalakkan di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan berbasis rumah tangga menjadi salah satu langkah nyata untuk memastikan ketersediaan sumber protein yang terjangkau dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), semangat kemandirian pangan diwujudkan melalui kegiatan sederhana namun bermakna, yaitu beternak ayam kampung di pekarangan rumah. Inisiatif ini tumbuh sebagai gerakan sosial yang menanamkan kesadaran akan pentingnya gizi, keberlanjutan, serta pemanfaatan kearifan lokal dalam membangun ketahanan pangan dari tingkat keluarga.
Ketahanan gizi rumah tangga tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau teknologi canggih. Bagi Ketua P4S Afro Farm di NTT, Mardianus Epafroditus Ili, solusinya bisa sesederhana menghadirkan ayam kampung unggul Balitbangtan (KUB) di pekarangan rumah. Melalui pendekatan praktis dan kearifan lokal, beternak ayam kampung menjadi cara nyata untuk menciptakan sumber protein dan ekonomi keluarga.
“Persoalan stunting dan ketahanan pangan di berbagai provinsi di Indonesia membutuhkan rumus berbeda. Afro Farm mencoba menghadirkan model sederhana yang mudah diadopsi oleh petani, dengan dampak langsung pada ketahanan gizi keluarga. Kami ingin menjadikan ayam kampung sebagai tangga pertama dalam membangun ketahanan pangan dan gizi rumah tangga,” ujar Mardianus.
Menurutnya, ayam kampung bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi juga simbol kehidupan masyarakat pedesaan. Sejak dahulu, ayam kampung hadir di setiap rumah tangga, memberi nilai ekonomi, sosial, bahkan spiritual. Di NTT sendiri, ayam kampung bukan sekadar ternak, tapi bagian dari kehidupan yang menghadirkan kedamaian di rumah.
Ia mengungkapkan, penelitian tentang ayam kampung dan ketahanan pangan sudah banyak dilakukan. Sejak 2000 hingga 2020, setidaknya ada 247 referensi akademik dan aplikatif yang meneliti peran ayam kampung dalam meningkatkan ketahanan gizi. Meski begitu, Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama tingginya angka stunting di beberapa wilayah.
Bank Gizi Rumah Tangga
Mardianus menyampaikan, bahwa masalah gizi dan ekonomi rumah tangga di NTT dapat dijawab melalui konsep ‘bank ternak mini’. Ayam kampung dijadikan sumber ekonomi sekaligus penghasil nutrisi. Ia menyebutnya bank ekonomi dan bank gizi rumah tangga.
“Dalam konteks peternakan di NTT, masyarakat lebih mengenal ternak besar seperti sapi. Akan tetapi, saya ingin mengubah paradigma itu. Ayam kampung jauh lebih cepat memberikan hasil dan bisa menjadi sumber uang tunai harian tanpa perlu menjual ternak besar. Kalau butuh uang cepat, tidak mungkin kita jual sapi, tapi ayam kampung bisa langsung menjadi solusi,” jelasnya.
Ia mencontohkan perhitungannya, di mana seekor ayam kampung dapat menghasilkan 160-180 butir telur per tahun. Jika satu anak mengonsumsi satu butir telur per hari, maka cukup dengan dua ekor ayam, kebutuhan gizi anak bisa terpenuhi sepanjang tahun. Dua ekor ayam saja sudah bisa menjadi mesin penghasil gizi di rumah.
Masalahnya, lanjut Mardianus, selama ini banyak program hanya fokus pada distribusi telur atau bantuan pangan, bukan menghadirkan sumber produksinya. Maka itu, Afro Farm mengembangkan model sederhana dengan menghadirkan ayam kampung sebagai ‘mesin gizi’ di pekarangan rumah. “Kita tidak boleh hanya memberikan produk, tapi harus menghadirkan alat produksinya,” tegasnya.
Selain memberikan manfaat gizi, tambahnya, ayam kampung juga membantu perekonomian rumah tangga. Dengan memanfaatkan bahan pakan lokal seperti jagung, masyarakat bisa mengonversi hasil panen menjadi sumber pendapatan baru. Lebih baik jagungnya diberikan untuk pakan ayam, karena dari situ ia bisa mendapat lima butir telur seharga Rp 25.000, daripada jagungnya dijual seharga Rp 5.000 per kilogram (kg).
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026




