Jakarta(TROBOSLIVESTOCK.COM) Direktorat Pakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian bersama Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Indragiri menggelar Webinar Pakan Ternak Series-7 dengan tema “Strategi Terpadu Produksi Hijauan Pakan Ternak Menghadapi Musim Kemarau” pada Senin (22/6). Tema tersebut dibahas guna menghadapi ancaman kemarau panjang pada 2026 yang dipastikan mempengaruhi kuantitas dan kualitas hijauan pakan ternak.
Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Luki Abdullah menegaskan, menghadapi El-Nino pada tahun ini harus disiasati dengan optimalisasi strategi manajemen pakan ternak yang perlu direncanakan dan dilakukan dengan baik, agar tidak berdampak pada penurunan performa ternak.
“Di 2026 ini kecenderungannya keringnya di bawah normal. Jadi artinya lebih kering dari biasanya. Baik dari intensitas, maupun dari durasinya. Ini artinya akan ada efek yang sangat signifikan terhadap tekanan atau cekaman pada tanaman pakan yang sudah kita rancang selama bertahun-tahun ini,” ungkap Prof Luki.
Menurut Prof.Luki, penurunan kualitas pada hijauan pakan ternak yang tidak diantisipasi sebelumnya, akan berdampak pada performa ternak salah satunya penurunan Body Condition Score (BCS). “Apabila ternak kita dibiarkan mendapatkan cekaman karena kualitas nutrient di dalam tanah itu rendah, disebabkan tidak mengantisipasi pada saat musim melimpah atau musim sebelumnya. Maka akan dihadapkan kemungkinan terjadi penurunan kinerja ternak seperti penurunan BCS,” tuturnya.
Dia menambahkan, manajemen pemeliharaan dalam menghadapi perubahan musim dilakukan dengan memilih jenis tanaman yang memiliki toleransi terhadap kekeringan yang sesuai dengan karakteristik tanah di wilayah tersebut. “Diantara seluruh keputusan manajemen untuk mitigasi musim itu, yang paling murah adalah mengandalkan kekuatan genetik potensial pada tanaman toleran kekeringan. Ketahui kebutuhan airnya, koleksi benihnya, kita siapkan kebun koleksinya,” jelas Prof. Luki.

Sambungnya, tanaman pakan ternak yang mampu beradaptasi dengan musim kemarau diantaranya, jagung dan sorgum yang dinilai memiliki stabilitas produksi lebih baik dibandingkan rumput gajah pada dua musim yang berbeda. Selain itu, tanaman leguminosa seperti indigofera, gliricidia, dan lamtoro juga direkomendasikan karena memiliki ketahanan yang baik terhadap kondisi kering.
Beberapa strategi yang diberikan untuk mempersiapkan musim kemarau, dipaparkan Prof. Luki adalah membuat pakan ternak dengan cara pengawetan, dan memiliki masing-masing karakteristik diantaranya seperti silase dengan kadar air 60-70%. Kemudian, hayladge dengan tekstur semubasah yang memiliki kadar air 30-40%, dan Dehydrated atau pakan kering dengan kadar air maksimal 15%.
Selain itu, Prof. Luki juga menyampaikan pentingnya suplementasi. Pemberian suplementasi yang diberikan dapat berbentuk molases, konsentrat, mineral, dan leguminosa diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak yang tidak didapatkan dampak penurunan kualitas hijauan di musim kemarau. “Pemanfaatan limbah tanaman pertanian seperti jerami padi dan jerami jagung yang sudah diberikan perlakuan juga dapat dijadikan alternatif pakan ternak”, harapnya.
Webinar kali ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan membantu penyusunan strategi yang tepat dalam manajemen pemeliharaan ternak menghadapi iklim kemarau panjang di Indonesia, sehingga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi pada ternak dan menjaga produktivitasn.fara




