Trobos banner 2026.May

WMU Digadang Menjadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Beberapa tahun ini kesadaran masyarakat akan produk pangan asal hewan yang sehat, aman, dan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan), sejalan dengan permintaan telur cage-free(bebas sangkar) yang menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mulai mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satu yang paling progresif adalah PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong oleh perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyaknya pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur cage-free.

Guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, lanjutnya, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan ayam petelur (layer) cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. “Kami optimis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami menyiapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar pria yang karib disapa Maha ini di Jakarta pada Jumat (19/6).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfaremelalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” imbuh dia.

33711ac8 1c63 4bff 8e3a 80056ca88068

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur cage-free.

Ia menyampaikan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. “Pada saat yang sama, semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” jelas Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO (Genetically Modified Organism) Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55 % konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72 % responden setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesrawan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong oleh permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tutup Sandi.bella

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp-Image-2026-06-25-at-13.29.31-1
Peternak Cage-Free Gelar Rakernas Ke-2
ad863f57-cabd-461f-ad20-45921cfa766f
WMU Digadang Menjadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara
eca43316-7564-4ce4-aeed-8d773f493d44
Permindo: Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Merugikan Peternak Rakyat
IMG_1940
SASPRI Gelar Workshop Hilirisasi Perunggasan dengan Integrasi Horizontal
dok by Nestlé Indonesia
Duta Besar Swiss Kunjungi Pabrik Kejayan Nestlé Indonesia  
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!