Peternakan doka menghadapi sejumlah tantangan. Namun di sisi lain, terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan peternak, berupa peningkatan konsumsi melalui diversifikasi olahan, promosi gizi dan penguatan rantai pasok
Asosiasi Pengusaha Aqiqah (Aspaqin) kembali menggelar pertemuan tahunan. Untuk tahun ini berjuluk “Meet Up 2025” yang digelar di Hotel Golden Tulip, Teluk Betung, Bandarlampung, pertengahan November 2025 lalu. Sejumlah topik yang berkaitan dengan domba dan kambing (doka) serta usaha hilirnya dikupas tuntas. Termasuk outlook bisnis akikah pada 2026 yang kondisinya diprediksi tak akan jauh berubah dibandingkan tahun ini sebagai akibat rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertemuan yang dihadiri 248 peserta dari 16 provinsi se-Indonesia tersebut, dibuka Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Wirata, yang diwakili Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti. Pembukaan diisi oleh sejumlah sambutan, di antaranya Ketua Panitia Heri Yusmargana; Perwakilan Dewan Pendiri Aspakin Ilham Mustopa, dan Ketua Umum Aspaqin, Yadi Suherlan.
Sementara pemateri terdiri dari Direktur Kesmavet, I Ketut Wirata,; DPP HPDKI yang disampaikan Nuryanto; Wakil Sekjen DPP HPDKI dan Ketua Umum Aspaqin, Yadi Suherlan. Pembicara pertama I Ketut Wirata memaparkan materi tentang “Outlook Peternakan Doka Tahun 2026” yang materinya dibacakan Lili Mawarti. Pada bagian awal, Direktur menyampaikan perkembangan ternak doka selama 10 tahun terakhir.
“Dalam kurun waktu 10 tahun dari 2013 sampai dengan 2023, populasi doka mengalami penurunan 0,18 % per tahun. Populasi kambing hanya naik 0,07 % dan domba turun 0,40 % per tahun. Sebaliknya, populasi domba mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni 0,77 %,” sesalnya.
Kurun waktu yang sama, Lili melanjutkan, produksi daging kambing mengalami penurunan sebesar 0,53 % per tahun. Sebaliknya, produksi daging domba naik 3,90 % per tahun. Penurunan produksi cukup signifikan pada 2020 disebabkan penurunan permintaan daging doka selama Covid-19 seiring pembatasan kegiatan dan lesunya perekonomian. Produksi daging doka merangkak naik mulai 2022 hingga 2023 seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat.
Berikutnya Direktur menyebutkan, dari data kebutuhan daging doka dari 2018 hingga 2023, cenderung mengalami penurunan sampai 2023. Namun produksi nasional masih melebihi kebutuhan. “Jumlah pemotongan mengalami penurunan mulai 2019 sampai dengan 2023. Namun importasi daging domba mengalami peningkatan dengan pemasukan tertinggi 2023,” papar dia.
Lili melaporkan, bahwa pada 2021 impor daging doka sebanyak 1,13 ribu ton atau senilai 7,42 US$ dengan 99,8 % dari Australia. Selanjutnya impor kambing hidup sebanyak 50.000 ekor dengan perincian dari Australia (70 %), Selandia Baru (20 %), dan Malaysia (10 %). Kendati begitu, lebih dari 90 % kebutuhan nasional masih dipenuhi oleh produksi lokal, sehingga impor hanya bersifat komplementer.
Menurutnya, turunnya kebutuhan daging doka diakibatkan konsumsi per kapita daging doka selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan dari 0,052 kg per kapita pada 2013 menjadi 0,020 kg per kapita pada 2022 atau rata-rata turun 6,71 % per tahun. Namun di satu sisi, permintaan daging doka meningkat terutama pada momen keagamaan, seperti Iduladha dan kegiatan sosial keagamaan lainnya, seperti akikah. Selain itu, tumbuhnya wisata kuliner yang dipicu oleh promosi di media sosial juga menyebabkan naiknya permintaan hotel atau restoran dan katering (horeka), sehingga permintaan daging doka meningkat.
“Dampaknya harga kambing pun 10 tahun terakhir cenderung naik dengan rata-rata kenaikan 4,95 % per tahun. Harga konsumen daging kambing pada 2013 mencapai Rp 66.720 per kg dan mengalami kenaikan harga setiap tahunnya hingga mencapai Rp 101.537 per kg pada 2022,” sebut dia.
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026




