WhatsApp Image 2026 10 30 at 11.12.00

HUT ke-50 Tahun, GPMT Soroti Efisiensi & Teknologi Jadi Kunci Pertumbuhan 2027

Tangerang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menggelar Seminar Nasional 2026 bertajuk “From Challenges to Opportunities: Evaluasi Bisnis Perunggasan 2026, Akselerasi Pertumbuhan 2027” pada Kamis (5/11), dalam rangkaian pameran Nusantara Livestock and Poultry (NLP) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten. Seminar nasional ini juga digelar dalam rangka memperingati hari jadi ke-50 tahun GPMT.

Seminar yang dilaksanakan secara hybrid tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, hingga pemangku kepentingan internasional. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membahas perkembangan industri perunggasan sepanjang 2026 sekaligus melihat peluang dan tantangan dalam mendorong pertumbuhan pada 2027.

Ketua Pelaksana Seminar Nasional GPMT 2026, Yetti Liza, mengatakan tema yang diangkat mencerminkan kondisi sekaligus misi besar industri perunggasan. “2026 bukan tahun yang mudah bagi industri perunggasan. Kita dihadapkan pada fluktuasi harga dan ketersediaan pakan. Harga unggas dan akuakultur masih menghadapi tekanan dan belum sepenuhnya berada di tingkat ideal untuk keberlanjutan usaha,” ucapnya.

Menurut Yetti, bahan pakan memiliki porsi terbesar dalam struktur biaya produksi sehingga perubahan yang terjadi pada sektor tersebut berdampak terhadap industri dari hulu hingga hilir. Ia menyebutkan, pelaku industri telah melewati berbagai tantangan sepanjang 2026. Karena itu, diperlukan kerja sama untuk mengubah tantangan menjadi peluang agar industri perunggasan dapat berkembang lebih berkelanjutan.

d0002430 c43d 49ca 8e8d 81ffdf772da7 scaled
dok by bella

Menatap 2027, GPMT menaruh optimisme terhadap pertumbuhan industri melalui pemanfaatan teknologi. Industri pakan juga diharapkan tetap menjadi salah satu motor penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan sektor perunggasan.

 

Tantangan Biaya Produksi & Ketersediaan Bahan Baku

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, menilai tema seminar tersebut sangat relevan dengan kondisi industri saat ini. Iamenyampaikan bahwa hasil survei menunjukkan biaya produksi, kondisi makroekonomi, dan ketegangan geopolitik menjadi tantangan utama yang dihadapi industri.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Tri menilai peningkatan produktivitas tetap membuka peluang bagi industri perunggasan. Ia mencontohkan perkembangan industri perunggasan Amerika Serikat yang menunjukkan peningkatan produktivitas melalui sinergi manajemen, pakan, dan kesehatan hewan.

Dari sisi domestik, potensi pasar Indonesia juga dinilai masih besar seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Jumlah penduduk diperkirakan mencapai sekitar 297 juta jiwa pada 2027, dengan 67,5% di antaranya merupakan kelompok usia produktif.

Tri juga menyoroti perkembangan konsumsi produk unggas di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan, konsumsi unggas meningkat dari 21,2 kg per kapita per tahun menjadi 29,6 kg per kapita per tahun.

Sementara itu, berdasarkan hasil Susenas BPS, tingkat partisipasi konsumsi telur ayam ras mencapai 91,6%. Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas perunggasan menjadi salah satu penopang utama konsumsi pangan masyarakat. Namun, Tri mengingatkan bahwa industri tetap perlu menjaga daya saing melalui efisiensi biaya, ketersediaan bahan baku, dan serapan pasar.

Ia juga menyampaikan bahwa komponen pakan memiliki porsi besar dalam biaya produksi, yakni sekitar 67,82 % pada broiler dan 74% pada layer di perusahaan besar. “Industri pakan dan perunggasan tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” tegasnya.

Menurut Tri, sejumlah tantangan perlu dikelola bersama, mulai dari tekanan biaya energi dan tenaga kerja, perubahan harga komoditas dan bahan baku impor, ketidakpastian global, biaya logistik, hingga ketersediaan jagung.

 

Pertumbuhan Produksi Pakan Lebih Cepat dari Jagung

Sementara itu, Kasubdit Bahan Pakan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Diner Y.E. Saragih, menyoroti pertumbuhan produksi pakan yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan produksi jagung nasional.Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena produksi jagung belum mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan industri pakan.“Jagung sudah lambat pertumbuhannya daripada pertumbuhan pakan. Kita harus hati-hati terhadap kondisi jagung kita yang pertumbuhannya lebih lambat dari produksi pakan,” tekan dia.

Ia juga menyinggung perlunya mempertimbangkan penggunaan benih bioteknologi atau genetically modified organism (GMO),sebagaimana yang telah diterapkan di sejumlah negara. Menurutnya, penggunaan benih konvensional perlu dievaluasi seiring kondisi produksi jagung yang mulai mengalami keterbatasan.

 

Dari sisi bahan baku impor, Diner menyampaikan bahwa industri pakan mulai merespons kebutuhan bahan baku melalui diversifikasi sumber protein, di antaranya dengan meningkatkan penggunaan soybean meal (SBM), rapeseed meal, dan bahan baku lainnya.

Ia juga menyoroti perkembangan penggunaan distillers dried grains with solubles (DDGS). Menurutnya, volume DDGS pada tahun ini diperkirakan menembus 1 juta ton, meningkat dibandingkan kisaran 500.000–600.000 ton sebelumnya.

Terkait harga, Diner menyebutkan bahwa sepanjang 2026 terdapat kecenderungan kenaikan harga pakan. Ia juga menyinggung perkembangan harga minyak dunia yang pada saat pemaparan turun di bawah US$100 per barel, yang dikaitkan dengan dinamika pemilu di Amerika Serikat (AS).

 

Ketersediaan Jagung & Perkembangan Bahan Baku Pakan

Dalam pembahasan mengenai bahan baku pakan, Imam Sujono selaku Seed Marketing Head PT Syngenta Indonesia menyoroti kondisi produksi jagung nasional. Ia menyampaikan bahwa pada 2026 Indonesia masih mengalami kekurangan jagung sekitar 1 juta ton. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan pola tanam petani yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air hujan.

Sekitar 70% penanaman jagung dilakukan di lahan tegalan, 20% di tengah sawah, dan 10% di dataran tinggi. Petani umumnya menunggu hujan turun sebelum mulai menanam. Imam menjelaskan, kondisi produksi jagung di sejumlah wilayah juga berbeda-beda. Ketersediaan jagung di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara menjadi bagian dari perhatian dalam melihat pasokan nasional.

Untuk 2027, ia memperkirakan ketersediaan jagung akan mulai terlihat pada Februari hingga Maret, bergantung pada kondisi hujan dan waktu tanam. Karena itu, Imam mengingatkan pelaku industri agar bersiap menghadapi potensi harga jagung yang tinggi dan ketersediaan yang terbatas.

Selain itu, ia menyoroti penggunaan benih bioteknologi atau genetically modified organism (GMO). Menurutnya, petani Indonesia mulai menggunakan benih bioteknologi dengan tingkat adaptasi yang cukup pesat. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan benih berkualitas agar petani memperoleh hasil produksi yang baik dan industri mendapatkan bahan baku yang memadai.

Sementara itu, dari sisi pasar global, Rachel Trego, International Economist (Grains) Global Commodity Analysis Division/Global Market Analysis Foreign Agricultural Service, United States Department of Agriculture (USDA), Washington DC, menyampaikan perkembangan produksi minyak nabati dan permintaan jagung dunia.

Ia menyoroti peningkatan produksi oilseed tahun ini serta perkembangan produksi di Amerika Selatan. Rachel juga mengingatkan bahwa peningkatan permintaan jagung perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi ketersediaan pasokan global.

 

Strategi Pengadaan Bahan Baku di Tengah Ketidakpastian Global

Country Director Indonesia USSEC, Ibnu Wiyono, menjelaskan pentingnya informasi pasar global bagi industri pakan, khususnya dalam menentukan waktu pembelian bahan baku. Menurutnya, informasi mengenai kondisi geopolitik, permintaan global, serta perkembangan pasar di negara produsen dan konsumen menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan pakan dalam menyusun strategi pengadaan.

Ia menyebutkan, keputusan pembelian bahan baku tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga waktu yang tepat untuk melakukan transaksi dengan pemasok. “Ini bagian dari efisiensi produksi pakan. Kapan waktu terbaik membeli bahan baku adalah salah satu efisiensi pakan,” ujarnya.

Ibnu juga membahas perkembangan pasar bungkil kedelai atau soybean meal (SBM). Ia menyampaikan bahwa permintaan dari kawasan Asia Tenggara cukup besar dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan pasar.

Menurutnya, industri perlu mencermati perkembangan permintaan dari China, Uni Eropa, Brasil, Amerika Serikat, dan Argentina untuk memperoleh gambaran mengenai keseimbangan pasokan dan kebutuhan bahan baku. Ia menilai transparansi informasi dan pemanfaatan teknologi dapat membantu industri pakan meningkatkan efisiensi, termasuk dalam proses pembelian bahan baku.

 

Kondisi Makroekonomi & Daya Beli Masyarakat

Dari sisi ekonomi, Natalia Susan dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia memaparkan pengaruh kondisi geopolitik global terhadap perekonomian, khususnya harga komoditas dan energi. Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta perkembangan konflik Rusia dan Ukraina turut memengaruhi harga komoditas energi. Dampaknya juga dapat meluas ke komoditas lain yang berkaitan dengan energi, termasuk jagung, CPO (crude palm oil), dan gula.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tren inflasi di sejumlah negara dan kebijakan moneter. Natalia juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik pada triwulan III 2026 tercatat sebesar 5,47%. Dari sisi konsumsi, ia melihat masih terdapat optimisme masyarakat. Indikator ekspektasi konsumen menunjukkan tren peningkatan, begitu pula pendapatan mayoritas responden dalam tiga bulan terakhir.

Namun, Natalia mengingatkan bahwa daya beli masyarakat tetap berkaitan erat dengan perkembangan inflasi, terutama inflasi pangan.Ia menyoroti kondisi harga daging dan telur ayam yang mengalami penurunan hingga terjadi deflasi pada bulan tersebut.

Natalia menyampaikan bahwa Bank Indonesia terus berupaya memperkuat stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Salah satu langkahnya adalah menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak mengalami fluktuasi berlebihan.

 

Keseimbangan Supply & Demand Perunggasan Nasional

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Asrokh Nawawi, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan dalam industri perunggasan nasional. Menurutnya, memproduksi ayam bukanlah persoalan utama. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga keseimbangan suplai dan demand agar usaha tetap stabil dan menguntungkan seluruh pemangku kepentingan.

“Bicara soal perunggasan, kalau hanya mau memproduksi ayam itu mudah. Itu hal yang mudah, tapi bagaimana menjaga suplai dan demand sehingga menjadi usaha yang stabil dan menguntungkan stakeholder,” ujarnya.

Asrokh menjelaskan bahwa pengaturan populasi ayam perlu dilakukan secara terencana dari hulu hingga hilir. Perhitungan tersebut mencakup jumlah penduduk, konsumsi per kapita, kebutuhan ayam, hingga jumlah DOC (ayam umur sehari), parent stock (PS), dan grand parent stock (GPS) yang diperlukan.

Ia menyebutkan, produksi DOC pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 4,3 miliar ekor, sedangkan kebutuhan diperkirakan sekitar 3,8 miliar ekor. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan apabila produksi tidak disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Asrokh juga menyoroti dampak masuknya GPS pada 2024 yang terkonsentrasi dalam periode April hingga Desember. Kondisi tersebut dinilai turut menyebabkan kelebihan pasokan sementara dan berdampak pada penurunan harga.

Untuk 2027, ia memperkirakan produksi DOC berada di kisaran 3,8–3,9 miliar ekor. Produksi diperkirakan mengalami penurunan pada pertengahan tahun sebelum kembali meningkat pada kuartal III dan IV. Ia menegaskan bahwa pengendalian produksi perlu dilakukan secara berkala dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar harga tetap menguntungkan bagi seluruh pihak.

 

Evaluasi Industri Pakan & Perunggasan Menuju 2027

Lebih lanjut, Ketua Umum GPMT, Tevi Melviana, turut memaparkan kondisi ekonomi dan perkembangan industri pakan serta perunggasan nasional. Ia menyampaikan bahwa kenaikan nilai tukar rupiah menjadi salah satu tantangan bagi industri pakan karena sebagian kebutuhan bahan baku masih bergantung pada impor.

Tevi juga menyoroti besarnya potensi industri perunggasan Indonesia. Industri ini berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, menyerap sekitar 10% tenaga kerja nasional, dan memiliki omzet sekitar Rp 700 triliun per tahun.

Menurutnya, sekitar dua pertiga konsumsi protein masyarakat Indonesia berasal dari produk unggas, baik daging maupun telur.Meski memiliki potensi besar, industri masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Di antaranya ketergantungan impor GPS, persoalan kesehatan hewan, serta tingginya biaya infrastruktur dan logistik.

Tevi juga mengulas perkembangan bisnis perunggasan yang mengalami perubahan dari pola peternakan konvensional menuju industri yang lebih modern. Pada pola peternakan sebelumnya, kandang masih didominasi sistem terbuka atau open house, pemeliharaan manual, serta penjualan ayam yang bergantung pada broker dan pasar tradisional.

Sementara itu, perkembangan menuju sistem poultry businessmendorong penggunaan kandang tertutup atau closed house, sistem otomatis, serta pemasaran melalui pasar yang lebih modern dan sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka). Ia menilai perubahan tersebut membuat pelaku usaha perlu meningkatkan kemampuan pengelolaan bisnis, efisiensi produksi, dan penguasaan pasar.

Dalam industri pakan, Tevi menjelaskan bahwa sekitar 85% faktor produksi berkaitan dengan bahan baku dan 15% lainnya berkaitan dengan teknologi. Kondisi tersebut membuat industri pakan sangat bergantung pada ketersediaan serta harga bahan baku. Sementara itu, kemampuan menaikkan harga jual pakan juga menghadapi keterbatasan.

Ia menambahkan, industri pakan kini tidak cukup hanya mengandalkan penjualan pakan. Model bisnis mulai bergerak menuju konsep from feed to food, sehingga diperlukan kerja sama dan integrasi antara sektor pakan dan peternakan.

Tevi juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam menghadapi perubahan regulasi dan sistem industri yang terus berkembang.Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri pada 2026 perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapan bisnis pada 2027.bella

Tag:

Bagikan:

Trending

95eb63c0-52a5-4d0a-969c-33b6c081dedd
HUT ke-50 Tahun, GPMT Soroti Efisiensi & Teknologi Jadi Kunci Pertumbuhan 2027
Dok By Bella
Permindo Desak Pemerintah Wujudkan Perunggasan Berkeadilan  
cac5d2a7-d997-47de-bb9d-7abf36c7e2ab
Kementan Targetkan Harga Ayam Diatas HPP
3988858c-f308-4470-b6a9-89c4efdac059
Meet Up ASPAQIN 2026: Perkuat Kebersamaan, Strategi Bertahan, dan Inovasi Bisnis Akikah
658193e6-33a0-4c04-8814-bac2153a77ea
IPB University Sosialisasikan Agro Circular Farming di Jampang Tengah
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!