Susu dengan SCC tinggi bukan hanya berpotensi cepat rusak, tetapi juga memengaruhi tekstur, rasa, dan daya simpan produk turunan
Di sejumlah peternakan sapi perah, Somatic Cell Count (SCC) masih kerap dipandang sekadar angka hasil uji laboratorium. Padahal di balik setiap hasil pemeriksaan, terdapat kisah tentang kesehatan sapi, kebersihan kandang, teknologi pemerahan, hingga cara peternak mengelola risiko. SCC pada dasarnya menjadi ‘cermin kejujuran’ yang menunjukkan apakah sistem peternakan benar-benar berjalan baik atau hanya tampak meyakinkan di permukaan.
Tidak sedikit peternak merasa aman selama susu terus mengalir ke tangki pendingin dan tetap diterima industri pengolah. Kondisi tersebut kerap memberi rasa lega, meskipun belum tentu menggambarkan kualitas produk secara menyeluruh. Ketika angka SCC mulai meningkat tanpa disadari, sesungguhnya persoalan sudah muncul jauh sebelum gejalanya terlihat.
Di titik inilah peringatan disampaikan Veterinary Advisor Milk SA, Mark Chimes, sekaligus Manager of the Animal Health & Welfare Program. Ia menegaskan bahwa ketenangan semu justru bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan usaha peternakan. “Jika hanya mengejar volume tanpa memperhatikan mutu, maka kita hanya memperbanyak susu berkualitas renda. Ini bukan sekadar nasihat, melainkan refleksi ilmiah yang lahir dari pengalaman lapangan, serta pemahaman mendalam mengenai biologi ambing dan dinamika produksi susu,” terang dia.
Menurutnya, SSC menunjukkan tingkat peradangan di ambing. Ketika tubuh sapi menghadapi gangguan, sel darah putih mengalir masuk untuk melawan masalah tersebut, dan kehadirannya ikut terbawa ke dalam susu. Di sini, angka SCC menjadi indikator penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja, karena angka tersebut berhubungan langsung dengan mutu produk.
“Susu dengan SCC di bawah 200 ribu tergolong baik dan diinginkan industri. Saat angkanya meningkat hingga kisaran menengah, risiko tersembunyi mulai muncul meskipun secara kasatmata sapi tampak sehat. Namun jika melampaui batas tertentu, situasinya tidak lagi sekadar teknis, melainkan sudah menyentuh persoalan hukum industri dan keberlanjutan ekonomi peternak,” jabarnya.
Ia memaparkan bahwa susu dengan SCC tinggi bukan hanya berpotensi cepat rusak, tetapi juga memengaruhi tekstur, rasa, dan daya simpan produk turunan seperti keju, mentega, serta yoghurt. Di tingkat pabrik, SCC tinggi berarti pemborosan energi, waktu, dan biaya karena untuk menghasilkan jumlah produk tertentu diperlukan susu lebih banyak. Dari sudut agroteknologi, ini menggambarkan inefisiensi sistem produksi yang sesungguhnya dapat dicegah.
Itulah sebabnya, Mark melanjutkan, sebagian perusahaan pengolah susu bisa menolak pasokan jika SCC tidak terkendali. “Bagi peternak, hal ini tentu menjadi ‘alarm keras’. Mereka bukan hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga reputasi sebagai pemasok. Maka, SCC sebaiknya diperlakukan sebagai indikator strategis, bukan sekadar angka yang dicatat lalu dilupakan,” saran dia.
Bagi dia, ketika keadaan darurat terjadi, langkah tercepat sering kali adalah memisahkan sapi dengan SCC tinggi dari bulk tank. Tindakan ini terasa menyakitkan, karena berarti sebagian susu harus ditahan. Namun Mark menegaskan, menutup jalan risiko lebih awal jauh lebih baik dibanding mempertaruhkan seluruh hasil produksi yang lain.
“Meskipun begitu, keputusan tidak boleh gegabah. Perlu pertimbangan menyeluruh, mulai dari usia sapi, masa produktif, kondisi kesehatan, peluang sembuh, hingga pengaruh pada arus kas peternakan. Dengan pendekatan rasional berbasis data, keputusan menjadi lebih adil bagi ekonomi, kesejahteraan ternak, dan kualitas industri,” sebut Mark.
Dalam pengamatannya, sering kali hanya sebagian kecil sapi yang memicu lonjakan besar SCC bulk tank. Hal ini menunjukkan pentingnya pencatatan, pengujian rutin, dan analisis proporsi kontribusi tiap individu. Di sinilah teknologi monitoring dan sistem recording modern memainkan peran besar dalam manajemen kesehatan ternak.
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026




