Trobos banner 2026.May

Penanganan & Penyembelihan Ternak Kurban Sapi BX

Sapi BX ini sulit ditangani, sehingga memerlukan sarana dan prasarana yang memadai untuk me-restrain dan menyembelihnya

Australian brahman cross (ABX) atau sapi brahman cross (BX) australia merupakan sapi tipe pedaging yang diekspor langsung dari Australia. Sapi ABX berasal dari persilangan antara brahman dengan sapi dari Eropa. Adapun sapi ABX atau BX ini toleran terhadap panas, sehingga cocok dengan kondisi cuaca di Indonesia.

Dalam ibadah kurban, sapi BX ini menjadi opsi ternak kurban, di mana memiliki keunggulan seperti tahan terhadap panas dan lingkungan tropis, serta kualitas daging yang baik dengan tekstur yang empuk dan kadar karkas yang tinggi. Kendati demikian, sapi BX memiliki postur tubuh yang besar dan dipelihara secara ekstensif sejak di Australia, sehingga perlu adaptasi dengan budaya peternakan di Indonesia.

Disampaikan oleh Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Supratikno, bahwa selain sebagai sapi tipe pedaging, sapi BX juga tipe pekerja. “Kemudian sapi BX termasuk dalam rangka sedang ke besar. Artinya dia harus tunggu dulu sampai besar, biar dagingnya menumpuk, baru siap untuk dipotong. Kemudian memiliki punuk atau klasa yang tinggi, memiliki telinga lebar yang terkulai ke bawah, serta gelambir,” sebutnya saat mengisi materi di seminar yang digelar oleh AWO (Animal Welfare Organization) di pemaran LEP Expo 2025 beberapa waktu lalu.

Adapun ia menambahkan, bahwa gelambir ini menjadi masalah. Terlebih sekarang banyak sapi BX yang tidak memiliki tanduk. Sehingga ketika di-handling di tempat pemotongan, dia tidak memiliki sarana penjepit tradisional yang tanduknya disuruh menumpu di lantai (kepala bisa tidak fix), kemudian disembelih dengan gaya dorong. Ia menilai, bahwa juleha (juru sembelih halal), kemungkinan besar akan kesulitan, sebab akan menghambat pisau.

“Ciri-ciri sapi BX adalah gelambirnya yang luar biasa tebal, apalagi yang masih pure blood. Berarti masih murni darahnya, gelambirnya tambah tebal. Kemudian tempramennya tergantung pada sistem pemeliharaan. Sebetulnya sapi BX itu termasuk sapi yang bisa didekati, bahkan bisa dipasang pedati, tetapi harus dibiasakan dengan manusia sejak kecil,” Supratikno menyampaikan.

Kendati demikian, ia mengkhawatirkan soal sapi BX yang diimpor ke Indonesia, kemudian digemukkan di feedlot selama tiga bulan, waktunya tidak cukup untuk interaksi dengan manusia. Menurutnya, sapi BX bukanlah sapi galak, tetapi sapi yang takut dengan manusia. Artinya, flight zone-nya masih sangat luas, sehingga ketika kurban ada yang pakai toa, ada komentator, bahkan anak-anak itu menonton, sapi menjadi takut. Semua pihak harus memikirkan keamanan sapinya juga.

Supraktikno berpendapat, sapi BX bisa stres di Indonesia. “Sapi BX sendiri dipelihara secara ekstensif, sehingga interaksi dengan manusia sangat terbatas. Oleh sebab itu, sapi BX lebih pas disebut sapi yang penakut. Makanya dia khawatir dengan keberadaan manusia,” papar dia.

Selain itu, ia melanjutkan, sapi BX tidak bisa diangkut dan diturunkan secara sembarangan. Seperti salah satu peternakan di Indonesia, di mana sapinya mengamuk pada saat diturunkan. Padahal peternakan tersebut memiliki fasilitas loading, tetapi sapi masih saja mengamuk. Apalagi di masjid yang tidak memiliki fasilitas unloading dan gangway.

“Terkait keluh pada sapi, sebetulnya bisa saja untuk tujuan handling, tetapi keluh itu umumnya dipasang pada saat sapi masih berumur muda. Sebab sistem sarafnya belum berkembang, sehingga rasa sakitnya juga belum terlalu berkembang. Kemudian keluh ini juga harus dipasang menggunkaan aplikator nose, bukan kemudian pakai bambu terus dicolok dan dikasih tali jemuran,” tegasnya sambil mengedukasi.

Ia pun mengatakan, keluh juga digunakan untuk sapi yang closed contact dengan manusia. Ini perlu waktu untuk pembiasaan. Kalau sapi dikeluh dari kecil, maka dia sudah tahu bahwa memang ada sesuatu yang meng-handling dia. Tapi kalau sapi sudah dewasa baru dikeluh, terkadang dia lupa kalau di hidungnya sudah terikat. Akhirnya dia merasa tidak nyaman, mengamuk dan berisiko merobek cuping hidungnya.

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026

Tag:

Bagikan:

Trending

WhatsApp-Image-2026-08-14-at-14.07.44
Peternak Usul Distribusi Jagung SPHP Diperpanjang
Dok by kementan
Mentan Akan Cabut Izin Importir Pakan Nakal
Pemeriksaan dan pemantauan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini
Membangun Masa Depan dari Gizi Anak
WhatsApp-Image-2026-08-13-at-11.18.59
Langkah Konkret Pemerintah Sambut Aspirasi Peternak
WhatsApp-Image-2026-08-12-at-09.18.02
Filipina Kunjungi Fasilitas Kesehatan Hewan Indonesia
banner2 1
banner6 1
banner1
Scroll to Top

Tingkatkan informasi terkait agribisnis peternakan dan kesehatan hewan. Baca Insight Terbaru di TROBOS Livestock!