Dengan memanfaatkan faktor penunjang seperti ketersediaan pakan berkualitas, teknologi yang tepat, integrasi agribisnis, serta kebijakan yang mendukung, peluang pengembangan kerbau sangat besar
Ken Ratu Gharizah Alhuur
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Ternak kerbau memiliki potensi signifikan sebagai penyedia protein hewani di Indonesia. Daging kerbau, bahkan, memiliki profil gizi yang cukup menjanjikan. Kajian menunjukkan bahwa daging kerbau lebih unggul dibandingkan daging sapi, karena kandungan lemak tak jenuhnya lebih rendah. Dari sisi produksi, kerbau potong (swamp/water buffalo) di Indonesia mampu menunjukkan pertumbuhan yang baik, asalkan pakan dan manajemennya memadai.
Kerbau yang mendapatkan pakan memadai dapat tumbuh lebih cepat daripada sapi lokal, dengan efisiensi pakan yang lebih baik. Selain daging, produk peternakan lain yang dihasilkan kerbau adalah susu. Oleh karena itu, pemanfaatan ternak kerbau, baik kerbau rawa/lumpur maupun kerbau perah, dapat mendukung peningkatan produksi dan konsumsi susu nasional, sekaligus mengurangi impor susu. Sementara itu, susu kerbau memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, sehingga membuatnya lebih bercitarasa dibandingkan susu sapi.
Kerbau memiliki potensi besar untuk mengisi kekurangan pasokan daging sapi di Indonesia, terutama karena kemampuannya beradaptasi di lahan sub-optimal. Ketersediaan hijauan pakan dan kemampuan kerbau memanfaatkan padang atau lahan marginal membuka peluang besar untuk hal ini.
Studi kasus oleh Azimah (2025) di Kecamatan Benai menunjukkan potensi produksi hijauan rumput segar untuk kerbau berkisar 6,66-23,52 ton/ha/tahun, dan tanaman lain sebesar 1,08-38,82 ton/ha/tahun. Dengan kebutuhan hijauan kerbau dewasa sebanyak 12.775 kg/ekor/tahun, satu hektar lahan hijauan di Kecamatan Benai, Riau dapat memenuhi kebutuhan hingga 6 ekor kerbau dewasa. Angka ini belum termasuk pemanfaatan limbah pertanian yang juga dihasilkan oleh wilayah tersebut.
Dengan demikian, kemampuan kerbau mengolah pakan kualitas sedang hingga rendah yang lebih baik dibandingkan sapi, merupakan potensi besar untuk pengembangan ternak penghasil daging di Indonesia. Potensi ini seharusnya dapat dioptimalkan menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan pangan protein hewani.
Area Sebaran Ternak Kerbau di Indonesia
Sebaran populasi kerbau di Indonesia menunjukkan konsentrasi di beberapa wilayah. Hal ini penting dalam penentuan area pengembangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), populasi kerbau terbesar ditemukan di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Jambi. Sebagai contoh, Aceh memiliki populasi 58.456 ekor, sementara Sumatera Utara memiliki 66.055 ekor kerbau. Sebaran ini menunjukkan bahwa provinsi-provinsi di Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Jawa, serta beberapa bagian Kalimantan, memiliki potensi besar untuk pengembangan ternak kerbau dan menjadi dasar strategi zonasi pengembangan yang spesifik berdasarkan kondisi regional.
Kerbau vs Sapi
Kerbau memiliki sejumlah kekhasan yang memberinya keunggulan sekaligus tantangan bila dibandingkan dengan sapi. Kerbau lebih tahan terhadap suhu panas dan kelembapan tinggi, sehingga sangat cocok dipelihara di daerah tropis seperti Indonesia. Sebagai contoh, kerbau mampu bertahan hidup di lahan berlumpur yang sulit dijangkau oleh sapi. Namun demikian, hal ini juga menjadi salah satu tantangan dalam pemeliharaan kerbau, yaitu keharusan menyediakan lahan berendam atau berkubang.
Selain sebagai sumber protein, kerbau juga digunakan sebagai hewan kerja, misalnya untuk membajak sawah dan menarik beban. Ini memberikan nilai tambah yang besar bagi petani di daerah pedesaan. Namun pemanfaatan kerbau sebagai ternak kerja juga sudah semakin menurun dalam beberapa dekade terakhir dan beralih ke mesin traktor. Pemanfaatan kerbau sebagai ternak kerja juga menjadi bumerang terhadap kualitas daging kerbau yang didapatkan.
Kerbau juga menghasilkan susu dengan kandungan lemak lebih tinggi dibandingkan sapi, yang sangat bernilai dalam produksi produk susu seperti keju dan yoghurt. Kerbau dapat bertahan dengan pakan berkualitas rendah atau hijauan dengan kandungan nutrisi yang lebih sedikit dibandingkan sapi. Seperti yang disampaikan oleh Adlan & Setiawan (2023), kerbau mampu bertahan hidup di kawasan yang relatif sulit, terutama dalam hal ketersediaan dan kualitas pakan.
Namun demikian, kerbau juga mempunyai kekurangan, yaitu memiliki persentase karkas yang lebih rendah dari sapi bali dan sapi PO (peranakan ongol). Persentase karkas kerbau adalah 46,41 %, sementara sapi bali dan PO masing-masing mencapai 50,39 % dan 49,96 %.
Adapun beberapa jenis kerbau memiliki kinerja reproduksi yang lambat, ditandai dengan interval beranak yang panjang dan fenomena “silent heat“, sehingga pertumbuhan populasinya menghadapi hambatan. Pola pemeliharaan kerbau sampai saat ini umumnya masih ekstensif. Aspek pakan, reproduksi, dan kesehatan kerbau masih tertinggal dibanding sapi.
Meskipun kerbau memiliki kelebihan dalam mencerna pakan kualitas sedang-rendah, pemeliharaan yang optimal serta memperhatikan kebutuhan dan kecukupan nutrisi pada setiap fase fisiologis tetap diperlukan. Dengan demikian, pemeliharaan yang dilakukan dapat lebih efisien dan menghasilkan output yang lebih optimal.
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 316/ Januari 2026





