Sabtu, 31 Oktober 2020

Kontes Sebagai Upaya Pelestarian Ayam Pelung

Kontes Sebagai Upaya Pelestarian Ayam Pelung

Foto: dok.Unpad
Kontes ayam pelung di Universitas Padjadjaran pada 2019 (ilustrasi).

Bandung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Sejarah ayam pelung di Indonesia cukup panjang, sejak  pertama kali “ditemukan” oleh KH Djarkasih pada 1850 di wilayah Bunikasih, Cianjur, sehingga kini ayam dengan suara khas ini digemari sebagai unggas kontes bergengsi.

 

Fakultas Peternakan Univesitas Padjadjaran (Fapet Unpad) secara rutin menggelar kontes ayam pelung, setiap kali penyelenggaraan dies natalisnya. Sayangnya kontes kali ini hanya dapat dilaksanakan secara daring karena pandemi Covid-19. Sebelum kontes digelar, Fapet Unpad menyelenggarakan seminar ayam pelung pada Sabtu (30/10) melalui aplikasi Zoom.

 

“Ayam pelung memiliki  potensi besar untuk membawa nama baik negara. Tentunya, kita harus memahami bagaimana karakteristik dan budidaya ayam pelung,” ujar Dekan Fapet Unpad, Husmy Yurmiati saat membuka acara.

 

Dia menyebutkan pada periode 1960 – 1970, bobot rata-rata ayam pelung di Indonesia adalah 6 – 7 kg untuk jantan dan 2,5 – 3,5 kg untuk betina. Namun, sekarang ayam pelung dengan bobot 6 – 7 kg termasuk dalam kategori ayam besar.

 

“Ayam pelung juga bagus sebagai ayam petelur. Kami mencatat, produksi telur ayam pelung betina adalah 100 – 190 butir pertahun. Bahkan, di daerah Cianjur produksinya bisa menembus angka 230 butir per tahun,” imbuh Ketua Umum DPP Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI), Djamaludin.

 

Populasi ayam pelung di tanah air dilaporkan hanya berjumlah 2 juta ekor. Angka ini membuat Djamaludin khawatir ayam pelung berada di ambang kepunahan. Pemanfaatan ayam pelung jantan di perusahaan integrasi harus segera diadakan, melalui program kerjasama secara menyeluruh.

 

Kontes untuk Konservasi

Upaya lain untuk menyelamatkan ayam pelung dari ancaman kepunahan adalah dengan melakukan konservasi. Diungkapkan Indrawati Yudha Asmara, bentuk konservasi yang bisa ditempuh adalah dengan mengadakan kontes ayam pelung.

 

Sebenarnya, ada beberapa bentuk konservasi, yaitu konservasi insitu, konservasi eksitu invivo dan konservasi eksitu invitro. “Konservasi insitu biasanya digunakan secara berkelanjutan oleh peternak dalam sistem produksi, dimana ternak mampu dikembangbiakkan,” ujar dosen Fapet Unpad ini.

 

Konservasi eksitu invivo adalah pemeliharaan populasi hewan hidup yang tidak disimpan dalam pengelolaan normal, misalnya di taman zoologi atau peternakan milik pemerintah. Terakhir, konservasi invitro berarti konservasi dalam kondisi kriogenik, termasuk kriogenik embrio, semen, oosit, sel somatik atau jaringan lain yang berpotensi menyusun kembali hewan hidup di kemudian hari.

 

Indrawati beranggapan tanpa adanya kontes ayam pelung, maka unggas unggulan ini tidak mampu diketahui secara masif oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, kontes ayam pelung menjadi sarana jitu guna mencari potensi dan bibit ayam pelung yang mumpuni. Selain itu, peran serta peternak juga sangat dibutuhkan, agar lebih gencar dalam melakukan promosi dan bertukar infomasi seputar keunggulan ayam pelung.

 

Djamaludin menggaris bawahi, bahwa kontes ayam pelung merupakan ajang untuk mencari bibit unggul guna dikembangbiakkan. “Tujuan lain yang dapat dibidik dari kontes ini adalah untuk melakukan pemurnian, peningkatan kualitas, hiburan, apresiasi seni budaya dan bursaayam pelung,”  kata dia.

 

Sementara itu, juri muda kontes ayam pelung yang juga penggemar ayam pelung Muhammad Nur Eldi menyatakan betapa melimpahnya keistimewaan ayam pelung yang dapat dilihat. Selain suara yang sangat khas, postur tubuh ayam pelung juga terbilang lebih gagah sehingga mudah menarik perhatian.

 

Dia memandang alasan utama penggemar ayam pelung untuk konsisten adalah faktor bisnis. Ayam pelung yang diikutsertakan dalam kontes dan menyabet gelar juara, akan bernilai jual tinggi, hingga puluhan juta rupiah.  ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain