Selasa, 26 Juli 2022

Pendekatan Kesehatan Hewan untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Pendekatan Kesehatan Hewan untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Foto: ist/dok.pixabay


Roma, Italia (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pendekatan yang lebih terperinci pada aspek kesehatan hewan (keswan) diperlukan untuk mengurangi efek gas rumah kaca (GRK) dari indsutri peternakan. Pendekatan ini penting bagi negara yang akan memasukkannya ke dalam komitmen nasional mereka terhadap perubahan iklim global.

 

Penyakit yang mempengaruhi hewan, berapa lama mereka hidup dan seberapa produktif mereka semua memiliki dampak signifikan pada emisi GRK. Hal ini dilaporkan oleh Food an Agriculture Organization (FAO), Global Dairy Platform dan Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gas, berjudul ‘Peran Kesehatan Hewan dalam Komitmen Iklim Nasional’.

 

Ini artinya investasi yang lebih besar diperlukan guna membangun sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV). Saat ini tidak ada metode standar untuk memasukkan peningkatan kesehatan hewan dalam inventarisasi nasional GRK atau kontribusi yang ditentukan secara nasional di sebagian besar negara. Alhasil, pentingnya kesehatan hewan seringkali tidak tercermin dengan jelas dalam komitmen negara-negara untuk memerangi perubahan iklim.

 

“Laporan ini menandai terobosan dalam menyoroti pentingnya kesehatan hewan dan membimbing negara-negara menuju pendekatan yang jauh lebih terperinci dalam mengevaluasi perannya dan bagaimana hal itu perlu dimasukkan ke dalam komitmen nasional untuk membantu mengurangi krisis iklim,” ungkap Wakil Direktur Jenderal FAO, Maria Helena Semedo

 

Sementara itu Direktur Eksekutif Global Dairy Platform, Donald Moore mengatakan bahwa sektor peternakan menyediakan nutrisi penting dan mata pencaharian bagi lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Ini menunjukkan bagaimana pemerintah dan industri dapat bekerja sama dalam solusi iklim dan merupakan bagian dari inisiatif Pathways to Dairy Net Zero sektor susu global. 

 

Walaupun laporan tersebut dengan jelas menunjukkan peluang peningkatan kesehatan hewan untuk berkontribusi pada mitigasi iklim, laporan ini juga menyoroti kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan data penting dan membangun kapasitas khususnya di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

 

Adapun Perwakilan Khusus GRA, Hayden Montgomery mengungkapkan bahwa pemerintah dan sektor harus mendukung investasi jangka panjang dalam penelitian dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi kebijakan dan program kesehatan hewan. “Ini bertujuan untuk mewujudkan potensi penuh mereka,” kata Montgomery.

 

Laporan tersebut menunjukkan bagaimana negara dapat mengembangkan sistem MRV di tingkat nasional untuk dapat memasukkan peningkatan kesehatan hewan dalam komitmen iklim nasional. 

 

Tetapi untuk melakukan itu, kata laporan tersebut, penting bagi negara-negara untuk menggunakan metodologi terperinci yang dikenal sebagai tingkat 2 atau 3, yang dikembangkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim/Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

 

Sementara pendekatan tingkat 1 yang umum digunakan hanya memungkinkan untuk memperkirakan emisi GRK per hewan dengan rata-rata regional. Tingkat 2 melihat pada sistem produksi lokal tertentu. Ini termasuk parameter kawanan untuk memperkirakan dampak pada jumlah hewan seperti kematian, kesuburan, usia saat pertama kali melahirkan dan tingkat penggantian, serta data produksi termasuk hasil susu dan bobot badan pada tahap kehidupan yang berbeda.

 

Data pakan untuk berbagai kategori hewan dan sistem pengelolaan kotoran juga penting karena memiliki pengaruh kuat pada faktor emisi. Mengukur parameter seperti faktor konversi metana (CH4) bahkan mungkin memerlukan penggunaan pendekatan Tier 3 dengan pemodelan yang lebih kompleks dan data terkait, kata laporan itu.

 

Tantangan utama menyangkut bagaimana emisi dari sektor peternakan dilaporkan dalam inventarisasi GRK nasional dan dimasukkan dalam NDC. Dalam inventaris mereka, negara-negara melaporkan emisi langsung di tingkat sektor.

 

Emisi di sektor peternakan ini termasuk emisi CH4 dari fermentasi enterik dalam sistem pencernaan hewan dan emisi CH4 dan nitrous oxide (N2O) dari pengelolaan kotoran ternak. Emisi dari produksi pakan, pengolahan dan transportasi serta penggunaan energi dilaporkan di bawah “tanah pertanian” atau sektor energi.ed/bella

 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain