Senin, 1 Pebruari 2021

Suplai Tersandung, Pelaku Persapian Limbung

Suplai Tersandung, Pelaku Persapian Limbung

Foto: dok. trobos


Dua tahun lalu, di Australia terjadi kebakaran dan banjir sehingga mengalami depopulasi sapi. Saat ini Australia sedang melakukan restocking, sehingga suplai bakalannya berkurang dan harganya sudah di kisaran Rp 55.460 per kilogram bobot hidup
 
 
Melonjaknya harga sapi bakalan yang umum disebut sapi BX dari Australia mulai berdampak serius. Harga sapi hidup di berbagai wilayah, termasuk di Lampung melonjak tajam dan berimbas kepada krisis daging di Jabodetabek. 
 
 
Dalam suatu talkshow, guru besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Muladno, menyatakan, krisis daging sapi berkepanjangan di Jabodetabek, disebabkan harga sapi bakalan impor dari Australia yang mahal. Sementara rencana impor sapi bakalan dari Brazil atau Meksiko juga bakal mahal, karena terlalu jauh secara geografis. Sementara sapi bakalan jantan di Indonesia disiapkan peternak untuk Idul Qurban. “Kalau  memotong sapi betina melanggar Undang – Undang dan merupakan tindakan pidana. Di sisi lain, impor daging beku dari India bukan daging sapi, tetapi daging kerbau,” ungkapnya.
 
 
Surya Wijaya, feedloter (pelaku usaha penggemukan sapi) yang memiliki kandang sapi di Desa Donoarum, Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah mengakui kesulitan memperoleh bakalan karena mahal dan seretnya impor bakalan dari Australia. 
 
 
“Tahun lalu terjadi banjir besar di Australia yang menyebabkan 300 ribuan ekor sapi, baik bakalan maupun indukan mati. Dampaknya produksi bibit sapi menurun drastis,” ujar pria yang bermitra dengan PT Indo Prima Beef (IPB) dalam pengadaan sapi bakalan.
 
 
Untuk tetap mengisi kandangnya, Surya membeli sapi bakalan lokal. Tetapi karena stok sapi bakalan lokal terbatas, hanya 25 persen kandangnya yang terisi. Selain itu harga sapi bakalan lokal juga bergerak naik, karena banyak feedloter yang beralih ke sapi lokal. “Kesulitan sapi bakalan ini sangat memukul usaha penggemukan sapi potong. Apalagi persoalannya belum ada gambaran, kapan impor sapi bakalan dari Australia bakal normal kembali,” lirihnya.
 
 
Senada dengan Surya, Sarjono, Ketua Kelompok Peternak Sapi Limosin di Kampung Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah menyebutkan, sudah dua bulan terakhir harga sapi potong ‘gonjang-ganjing’. Soal penyebabnya, ia prediksi akibat sapi bakalan dari Australia diborong China dan Vietnam yang sedang mengalami musim dingin.
 
 
Harga Naik Sejak 2020
Sementara Ketua Umum Gabungan Pelaku Usaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) Didiek Purwanto menuturkan gejala kenaikan harga sapi bakalan dari Australia sebetulnya sudah terlihat sejak 2020. Pada Januari 2020 harga sapi bakalan dari Australia masih 2,90 dolar US per kilogram hidup, lalu turun menjadi 2,50 dolar pada Mei dan melonjak hingga 3,60 dolar US per kilogram hidup pada akhir 2020.
 
 
“Artinya harga sapi bakalan Australia sudah mengalami kenaikan sejumlah 30,5 persen. Bahkan pada Januari-Februari ini harga sudah bertengger di angka 3,80 dolar US per kilogram atau jika dirupiahkan dengan kurs dolar Rp 14.200 maka sudah Rp 55.460 per kilogram bobot hidup,” tutur Didiek yang juga menjadi pembicara pada talkshow tersebut.
 
 
Sedangkan total ekspor sapi Australia pada 2019, disebutkan Didiek sebanyak 1,3 juta ekor, namun pada 2020 anjlok hingga 912 ribu ekor. Dari total ekspor sebanyak itu Vietnam menyerap 26 persen dan Indonesia sebanyak 45,2 persen. “Itu artinya di Australia punya problem. Dua tahun lalu terjadi kebakaran dan banjir sehingga mengalami depopulasi sapi. Jadi saat ini mereka sedang melakukan restocking,” ungkap Didiek yang juga Ketua PB Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) tersebut.
 
 
Dia utarakan, sebenarnya Gapuspindo sudah memberi warning kepada pemerintah, tetapi tidak digubris. Kemungkinan alasannya, karena permintaan daging di dalam negeri merosot seiring pandemi Covid-19.
 
 
Menguntungkan Peternak Sapi Lokal
Didiek memaparkan, total impor sapi bakalan yang dilakukan anggota Gapuspindo pada 2019 sebesar 601.1587 ekor dan pada 2020 turun menjadi 430. 667 ekor. Pada Desember 2020 tinggal 104 ribu ekor di kandang atau hanya 40 persen dari kapasitas normal sebanyak 160 ribu ekor. Saat ini stok sapi potong di kandang anggota Gapuspindo tinggal 90 ribu ekor dan sebanyak 80 persen dipasok ke Jabotabek.
 
 
“Solusi jangka pendek adalah mencari alternatif impor sapi bakalan seperti dari Meksiko, karena yang penting sapinya bebas penyakit. Meski lama dalam pengapalan sapi yang mencapai 26 hari baru sampai di Jakarta, tetapi harga bersaing. Sebab saat ini harga sapi lokal sudah mencapai Rp 49.500 per kilogram bobot hidup,” jelasnya. 
 
 
Kondisi saat ini menurutnya justru menguntungkan peternak yang memiliki sapi lokal. Ketika harga sapi potong BX murah, sapi lokal susah jual karena harganya lebih tinggi. “Teman-teman peternak sapi lokal bisa menikmati margin keuntungan lebih baik, karena harga jual dan omzet meningkat,” aku Didiek.
 
 
Sementara Sarjono menuturkan dengan kenaikan harga sapi saat ini seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong dan mengembangkan peternak kecil dan menengah di dalam negeri. “Jangan justru kenaikan harga sapi ini diatasi pemerintah dengan memperbesar kuota impor daging, sebab akan merugikan peternak lokal yang selama ini sudah bertahan dengan darah dan air mata di tengah berbagai kebijakan pemerintah yang merugikan,” ungkap Sarjono dengan nada berharap.
 
 
Disatu sisi Benny Karno, peternak sapi potong yang juga pedagang sapi dan pemilik rumah potong hewan (RPH) berharap pemerintah turun tangan mencarikan solusinya. Jika stok sapi bakalan di Australia terbatas dan harganya tinggi, maka pemerintah perlu menjajaki impor sapi bakalan dari negara lainnya. Jangan justru kenaikan harga sapi di dalam negeri yang berimbas kepada harga daging dimanfaatkan untuk memperbesar kuota impor.
 
 
Kelangkaan sapi bakalan di Australia menyebabkan harganya naik ketika sampai di Indonesia. Akibatnya jika dalam tahap penggemukan, nilai ADG (pertambahan bobot badan harian) di bawah 1,8 kilogram per hari maka peternak rugi. Sebab selain bakalan, harga bahan baku pakan juga naik. Di antaranya, tepung soya bean meal (SBM) sudah Rp 9 ribu per kilogram.
 
 
Namun, ia menjelaskan hingga kini permintaan sapi dari mitranya di Jambi, Palembang dan Pekanbaru masih stabil. Jika pada kondisi normal, pembeli lebih banyak memesan sapi BX karena harganya lebih rendah, sekarang sudah berimbang dengan sapi lokal karena selisih harganya sudah tidak lagi signifikan seperti dulu, yakni sama-sama berkisar antara Rp 47.500 – 48 ribu per kilogram. “Dalam kondisi normal sebelumnya, harga jual sapi potong BX sebesar Rp 41 ribu – 42  ribu perkilogram dan sapi lokal Rp 43 ribu – 44 ribu per kilogram,” jelasnya.
 
 
Dilematis
Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Kota Bandarlampung Tampan Sujarwadi mengakui, dalam sebulan belakangan ini harga sapi sudah dua kali naik. Bahkan Ampan. panggilan akrabnya memprediksi harga sapi bakal terus naik karena stok di feedloter terus terkuras, sementara impor bakalan tersendat karena harganya melambung.
 
 
Sebaliknya harga jual daging menghadapi persoalan dilematis. Karena jika harganya dinaikkan omzet penjualan bakal berkurang dan jika tidak naik, bukan lagi keuntungan yang berkurang. “Bahkan kadang-kadang kita memotong sapi mengalami kerugian karena tidak ketemu jumlah kilogram dagingnya,” aku Ampan yang memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) Z-beef, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung. 
 
 
Saat ini Ampan masih menjual daging Rp 110 ribu per kilogram untuk pedagang bakso dan rumah makan serta Rp 115 – 120  ribu per kilogram di lapak pasar tradisional. Setiap malam Ampan memotong 5 hingga 7 ekor sapi.
 
 
Di tempat terpisah Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto menegaskan, stok daging sapi ini tersedia guna memenuhi kebutuhan nasional. Kementerian Perdagangan menjamin permintaan daging sapi di pasar rakyat dapat terpenuhi. “Saat ini stok daging sapi tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kemendag terus berupaya menjaga stok agar masyarakat tetap memiliki akses ke daging sapi,” kata Suhanto melalui rilis yang dikirim ke berbagai media.
 
 
Sebelumnya, Dewan Pembina Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta melakukan mogok penjualan daging sapi di pasar rakyat se-Jadetabek karena ada kenaikan harga karkas di tingkat Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Hal ini berdampak pada kenaikan harga daging sapi di tingkat pedagang.
 
 
Menanggapi hal tersebut, Suhanto menjelaskan, Kemendag telah berkoordinasi dengan APDI dan memperoleh informasi bahwa harga karkas di tingkat RPH mengalami penyesuaian sekitar 11,6 — 12,6 persen pada Januari 2021.
 
 
“Sebagai upaya menindaklanjuti mogok sebagian pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek, dalam jangka pendek Kemendag telah berkoordinasi dengan pemasok daging sapi dan APDI untuk memastikan kelancaran distribusi pasokan dan ketersediaan daging di pasar di wilayah Jadetabek,” tandas Suhanto.
 
 
Suhanto menambahkan, Kemendag juga telah bertemu dengan para importir sapi bakalan dan mengimbau importir untuk membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga sapi bakalan sampai di RPH dengan harga yang dapat menjamin agar pedagang daging sapi di pasar rakyat tetap dapat berjualan dengan keuntungan yang wajar.
 
 
“Dalam kondisi saat ini, Kementerian Perdagangan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan berbagai pihak lainnya agar harga daging sapi di tingkat eceran masih dapat dijangkau oleh masyarakat dengan ketersediaan yang cukup. Selain itu, Pemerintah akan mempersiapkan strategi baru sebagai alternatif guna memenuhi permintaan daging sapi,” tutup Suhanto.
 
 
Reorientasi Persapian Nasional
Pemerintah dan segenap pemangku kepentingan sepertinya perlu melakukan reorientasi pembangunan persapian nasional. Diutarakan Muladno, untuk mengatasi jalan buntu krisis daging yang disebabkan kekurangan sapi bakalan ini dengn solusi produktif yang harus dijalankan pemangku kepentingan, terutama pemerintah. “Serahkan urusan sapi ke pebisnis secara total, pemerintah hanya menerbitkan regulasi kondusif bagi pebisnis,” sarannya.
 
 
Lanjutnya, perankan peternak kecil yang jumlahnya mencapai 98 persen dan merupakan pemilik sapi indukan di Indonesia. Lebih nyata melalui pendampingan untuk dikonsolidasikan menjadi pengusaha kolektif profesional. Kemudian, perketat aturan impor daging beku hanya untuk bahan baku industri. Awasi secara ketat mengalirnya daging beku ke wilayah di luar Jabodetabek untuk kebutuhan konsumsi.
 
 
Selanjutnya, Muladno menekankan, perlonggar aturan impor sapi bakalan untuk kebutuhan Jabodetabek. Sinergi & kolaborasi memperbanyak sapi indukan lokal yang dimiliki komunitas peternak rakyat untuk dapat memproduksi sapi bakalan lokal. Dan yang paling penting yang selama ini belum dilakukan, adalah membangun kerjasama bisnis antara importir daging dan komunitas peternak rakyat guna membangun perusahaan pembiakan sapi kolektif berjamaah. “Jangan enak saja menikmati keuntungan impor daging, tapi beri mereka tanggung jawab mengembangkan pembiakan sapi di dalam negeri,” tutupnya.
 
 
Solusi jangka panjang, Didiek menawarkan sejumlah tindakan nyata agar permasalahan sapi potong belakangan ini tidak kembali berulang-ulang. “Susun arah pembangunan peternakan yang terstruktur, berkelanjutan, ada kesamaan bahasa serta partisipatif aktif semua pemangku kepentingan, pemberdayaan dan perlindungan peternak lokal,” urai Dirut PT Karunia Alam Sentosa Abadi (KASA) ini.
 
 
Selanjutnya, ia menggarisbawahi perlu harmonisasi regulasi antar kementerian yang sejalan dengan perundang-undangan, dan Peraturan Pemerintah yang in line dengan UU Cipta Kerja. Inventarisasi dan optimalisasi sumberdaya lokal potensial (sumberdaya alam dan SDM). TROBOS/Syafnijal Datuk - lampung
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain